Jumat, 27 Februari 2015

DAD IMM Psikologi dan FIK



21 Februari 2015
Hari ini terasa lelah sekali. Pengalaman pertama menjadi Master Of Training (MOT) di DAD Bersama IMM Psikologi dan FIK membuatku tidak bisa tidur selama 2 hari. Tanggung Jawab besar dalam perkaderan ini mengharuskan aku untuk sabar dan semangat. Karena bagiku Kaderisasi adalah harga mati.
Dalam kelelahan ini aku masih bisa becanda garau bersama teman-teman seangkatanku dan adek-adekku, seakan lelah itu hilang seketika. Terima Kasih teman-teman dan adek-adek.
Aku selalu berpesan kepada kalian, “jangan lupakan kaderisasi, sama-sama belajar dan meningkatkan kapasitas diri”
Sesungguhnya kaderisasi formal tidak akan melahirkan kader yang berkomitmen seketika, akan tetapi kaderisasi kulturallah yang akan mewujudkan itu. Yaitu kaderisasi yang dilakukan secara terus menerus, membangun hubungan emosianal dan mengambil kepercayaan kader. Sehingga dengan itu dibutuhkan pengorbanan, keikhlasan, keteguhan dan ketabahan sebagai modal dalam proses kaderisasi.
“Di akar rumput (Komisariat) dibutuhkan kader dengan solidaritas organik, terlibat dalam proses dan menghargai proses”.

Kamis, 18 Desember 2014

Wajah Dosen di Kampus UMSurabaya Yang Perlu Dikontrol

“Jadilah Guru Sekaligus Murid”- KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)

Pada edisi bulan lalu, buletin sandal jepit di rubric “The Voice” mengangkat sebuah tema tentang proses perkuliahan di kampus UMSurabaya berupa hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa, di masing-masing fakultas. Hal ini dirasa menarik, karena buletin sandal jepit sebagai media pencerahan menyodorkan pada kita, apa yang seharusnya kita ketahui dan perlu kita diskusikan bersama.
 Hasil  wawancara yang dilakukan oleh reporter buletin ini, dapat disimpulkan yaitu dalam proses perkuliahan di kampus yang ingin mereka soroti sebernya adalah posisi antara dosen dan mahasiswa sebagai wujud dari keberlangsungan proses perkuliahan. Hal itu jelas ketika mahasiswa diwawancari itu memaparkan kualitas cara mengajar dosen dalam proses perkuliahan. Sedangkan fasilitas pendukung juga mereka singgung, akan tetapi tulisan ini akan ditujukan  pada “subjek”nya, yaitu memposisikan Dosen dalam perkuliahan. Ditambah lagi secara pengalaman empiris sebagai mahasiswa, tema itu saya kira perlu tulis di sini. Dan perlu saya sampaikan di sini tulisan ini hanya  hasil pemikiran yang dirasa menurut kami benar, bukan untuk menghakimi apalagi menjelek-jelekkan dosen di kampus UMSurabaya ini.
Apa yang dikatakan oleh mahasiswa yang diwawancara itu, sangat cukup untuk menggambarkan ‘wajah’ dosen yang sebenarnya di lingkungan kampus UMSurabaya ini. Terkait kualitas dosen dalam perkuliahan yang masih perlu dipertanyakan. Mereka sebagain tidak puas, karena ketika perkuliahan dosen terlalu mengeksplorkan materi, terlalu terpaku pada PPT sehingga monoton, tidak mampu mengajak mahasiswa untuk diskusi ditambah lagi dengan dosen yang sulit untuk dihubungi, sulit dan kadang-kadang seenaknya sendiri dalam mengatur jadwal. Apalagi kalau males mengajar, dosen memberikan tugas kepada mahasiswa.
Sebagai mahasiswa saya juga sepakat dengan ungkapan tentang dosen. Kalau mahasiswa teliti pasti akan ketemu dengan wajah dosen yang demikian.  Kalau boleh jujur, kehadiran dosen pun tidak sesuai dengan  beban SKS yang diberikan. Saya menemukan dosen ketika mengajar terburu-terburu lantaran ada agenda lain, rapat. Akhirnya  dosen tadi itu memberikan perkuliahan hanya sebentar saja, sehingga waktunnya tidak sesuai dengan beban SKS. Belum lagi dosen yang sulitnya minta ampun dihubungi, ini mengesankan elitismnya dosen. Menurut saya dosen juga perlu dikontrol. Rasanya tidak fair ketika mengevaluasia proses perkuliahan hanya mahasiswa yang menjadi sasaran empuk, akan tetapi di sini dosen juga perlu dievaluasi.
Paulo Friere, dalam bukunya berjudul “Pendidikian Kaum Tertindas” Sistem pendidikan jangan disamakan dengan sistem Bank, yaitu dimana mahasiswa dianggap nasabah sedangkan Dosen sebagai pemilik Bank. Nasabah artinya orang yang menyimpan uangnya di bank dan Dosen, pemilik bank  bertugas untuk menyimpan uang si nasabah. Dosen sebagai subjek sedangkan mahasiswa dianggap objek. Dalam disistem ini mahasiswa dianggap sepeti gelas kosong, sehingga dosen hanya memberikan ilmu semaunya sampai gelas kosong tadi dapat terisi. Dosen tridak mampu mengajak mahasiswanya untuk berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan. Menurut Friere, sistem seperti itu merupakan bentuk penindasan dari suatu pendidikan. Mahasiswa hanya dibuat statis, dan selanjutnya mahasiswa tadi ketika berada ditengah-tengah masyarakat akan menjadi penindas baru oleh karena sistem pendidikan yang statis itu. Meminjam istilah Friere seharusnya sistem pendidikan menjadi  kekuatan  penyadaran dan pembebas umat manusia.
Ada kesamaan antara yang disampaikan oleh mahasiswa diwawancara tadi dengan yang digugat oleh Paulo Friere terkait sistem pendidikan. Agaknya sistem pendidikan/perkuliahan yang dilakukan oleh dosen mengarah pada sistem bank itu. Hubungan antara dosen dengan mahasiswa, layaknya hubungan antara subjek dengan objek. Makna subjek di sini punya wewenang untuk melakukan apa saja sedangkan objek adalah statis, hanya menerima apa yang dilakukan subjek. Kalau pengertian Friere berarti dosen melakukan penindasan bagi mahasiswanya melalui sistem pendidikan.

Saya berharap dosen sadar akan eksistensi sebagai dosen sehingga penindasan terhadap mahasiswa tidak terjadi. jangan maknai hubungan dosen dengan mahasiswa, seperti subjek dengan objek akan tetapi antara keduanya kedudukannya sama. seperti yang dikatakan KH Ahmad Dahlan, Jadilah guru (Dosen) sekaligus murid (mahasiswa), artinya dosen juga mengajar dan juga belajar kepada mahasiswa.

Jumat, 12 Desember 2014

Sebatas Catatan : Pemikiran untuk Koorkom UMSurabaya

Sabtu-Minggu ini, koorkom IMM UMsurabaya akan mengadakan Musyarawarah (Musykoorkom). Acara yang wajib dilakukan setiap tahunnya ini dalam rangka untuk memillih kepengurusan baru dengan melalui mekanisme pemiihan ketua umum dan formatur. Harapan yang tak pernah hilang,  kita selalu mengharapkan sebuah perubahan dalam setiap pergantian kepengurusan.
 Seberapa penting keberadaan koorkom di kampus? Pertanyaan selintingan  namun menusuk ini seringkali menjadi bahan  refleksi akan keberadaannya. Ada yang mengatakan bahwa koorkom adalah kepanjangan tangan cabang untuk mengkoordinir seluruh komisariat yang ada di kampus. Pun juga ada yang mengatakan bahwa korkom adalah sesuai kebutuhan komisariat, dengan kata lain kalau komisariat tidak butuh korkom maka kehadiran korkom di kampus tidak dibutuhkan. Setahu saya di surabaya kampus yang ada korkomnya ialah, Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), Universitas Islam Universitas (UIN) dan Universitas Negeri surabaya (UNESA) dan kampus yang terdapat IMM tapi tidak ada koorkomnya ialah, Universitas Airlangga Surabaya(UNAIR) dan Instiitut Sepuluh november Surabaya (ITS) dan Universitas adi buana Surabaya (UNIPA) karena alasan rasionalnya jumlah komisariat dari kedua kampus ini, tidak perlu menggunakan Koorkom. UNAIR dua Komisariat , ITS dan UNIPA satu Komisariat.
Kedua cara pandang di atas saya kira wajar, karena sampai hari ini keberadaan korkom di tiap-tiap kampus belum juga diatur secara baku di AD/ART IMM. Maka  untuk menjawab pertanyaan di atas, menurut pandangan saya keberadaan koorkom sangat diperlukan di kampus, dengan jumlah komisariat yang relatif banyak untuk mengkordinir seluruh komisariat. Sesuai dengan nama saja, maka koorkom adalah sebagai bagan yang bertugas mengkoordinir kepentingan masing-masing komisariat, lebih-lebih dapat mensinergikan antar komisariat dan  mampu menjadi jembatan komunikasi antara kepentingan cabang dengan komisariat maupun sebaliknya.
Menilisik koorkom di kampus UMSurabaya, yang  sebentar lagi mengadakan musyawarah ini, perlu kiranya mengetahui peran yang dilakukan sebagaimana eksistensinya sebagai koorkom selama ini. Sejauh apa yang saya ketahui selama menjabat sebagai pimpinan di komisariat dan posisi itu saya kira yang dapat mengetahui peran yang dilakukan oleh koorkom.
Bagi saya ada hal yang dilupakan barangkali oleh koorkom dan saya kira ini menjadi bahan koreksi supaya peristiwa itu tidak diulangi lagi, yaitu kurang maksimalnya ruang komunikasi delibaratif yang dilakukan oleh koorkom. Diperiode sebelum-sebelumnya, saya melihat di awal-awal periode ada upaya untuk mengarah ke sana dan itu dilakukan oleh masing-masing bidang. Dan dipertengahan dan diakhir periodenya seakan upaya itu hilang entah kemana. Saya kira komunikasi delibaritif ini sangat penting mengingat bahwa koorkom adalah wadah  yang mengkoordinir dan harus mengetahui keadaan di bawah (komisariat).
            Maka pola pendampingan yang continyu perlu digalakkan oleh Koorkom sebuah keharusan agar dirasa mampu untuk mengkoordinir seluruh komisariat di kampus UMSurabaya. Walapun itu terasa ideal dan kurang realistik, karena saya kira ada hambatan yang ini sudah menjadi rahasia di internal, yaitu terdapat komisariat yang sulitnya untuk dikoordinir. Saya sebut saja di sini, komisariat FAI. Berbagai cara untuk membujuk komisariat satu ini, akan tetapi sejauh dari pengamatan saya komisariat FAI masih susah untuk dikoordinir terlepas karena ada luka sejarah atau tendensi komisariat hal itu masih menjadi tanda tanya. Ditambah lagi,menurut pembacaan saya pribadi dan teman-teman komisariat ekonomi sudah berjalan sendiri, sudah sulit untuk dikoordinir dan berjalan bareng.
            Saya kira pembacaan yang sederhana di atas itu menjadi tugas untuk koorkom ke depan. Memang terasa berat ketika membayangkan tugas untuk menyelesaikan persoalan di atas, akan tetapi ketika kita sadar akan eksistensi koorkom maka orang yang nantinya akan menduduki pimpinan baru di koorkom harus menyelesaikan persoalan itu.
            Langkah yang saya sebutkan diatas, komunikasi deliberatif itu perlu dilakukan secara continyu, katakan sebulan sekali, terutama komisariat yang sekiranya sulit dirangkul, tentu dengan cara ini tidak akan ada khasiatnya jikalau masih ada egoisme dari komisariat sendiri karena komunikasi deliberatif ini akan ada khasiat ketika dalam berkomunikasi mampu cair dan egaliter. Setelah itu pendampingan yang intens atas seluruh komisariat harus dilakukan oleh koorkom ke depan dan terakhir menghidupkan kembai sekret sebagai basis kegiatan koorkom dengan seluruh komisariat, karena aktifitas di sekret saya kira dapat membangun emosional antar kader, komisariat dengan koorkom.

                   Hanya sebatas catatan dan pemikiran sederhana ini yang bisa haturkan untuk koorkom ke depan, kalau boleh jujur secara pribadi terjadi pergolatan dalam diriku, jika hanya dapat menulisakan sebuah cacatan ini, tanpa harus terlibat langsung untuk memperbaiki IMM di kampus UMSurabaya. 
Semoga dapat koorkom kedepan ini mampu memberikan perubahan, baik di koorkom sendiri dan seluruh komisariat. Apalagi koorkom ke depan mempunyai tambahan tugas untuk mendampingi dan membimbing komisariat yang saja dilahirkan, yaitu IMM komisariat Psikologi. Saya ucapkan selamat untuk Nurrima Dini Elysa yang telah diamanahi sebagai Ketua Umum IMM komisariat Psikologi.

Senin, 10 November 2014

Malam Ini Aku Kembali Aksi Turun Jalan

Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan
.-Soe Hok Gie



  

   Tadi malam aku kembali Aksi turun jalan, dalam rangka memperingati hari pahlawan dan menolak kenaikan harga BBM. Aksi yang diadakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Surabaya itu dihadiri oleh beberapa kader dari Koorkom maupun Komisariat di Suarabaya berjalan dengan Sayalancar setelah melakukan orasi dan ditutup dengan sebuah teatrikal.

      Malam itu aku kembali Orasi, dalam orasiku, aku mengingatkan kepada kawan-kawan yang ikut aksi bahwa Bung Karno pernah mengatakan "Tugasku lebih ringan daripada tugas kalian nanti, yaitu tugasku hanya mengusir penjajah asing di negeri ini, Tapi tugas kalian lebih berat yaitu mengusir penjajah negeri sendiri".  Diawal Orasi aku memang sengaja menyampaikan pesan bung Karno itu, karena mengingat perjuangan yang dilakukan dulu oleh para pahlawan kita adalah penjajah asing, tapi sekarang sudah berganti yang dilawan sekarang adalah penjajah dari negeri sendiri. Betapa sedihnya, kalau bangsa ini rusak oleh anaknya sendiri, rakyat semakin ditindas oleh sistem yang dibuat oleh anak bangsa sendiri; kemisikinan, pengangguran, dll itu, sudah menjadi kawan setia bagi rakyat kita, kalau lah perlu menuntut siapakah yang bertanggung jawab atas kondisi bangsa yang makin hari makin rusak ini?. Mari kita sama-sama merenungkan dengan hati nuranu anak bangsa untuk menjawab pertanyaan itu.

       Di hari Pahlawan ini, mulai hari ini, detik ini kita harus lahir sebagai pahlawan-pahlawan baru. pahlawan untuk bangsa kita ini. Lanjut orasiku. Pesan yang sangat emosional itu aku sampaikan dengan harapan dapat merkokoh spirit perlawan dan menumbuhkan sikap optimisme kawan-kawan yang ikut aksi pada malam itu. karena hanya dengan spirit perlawan dan sikap optimisme itulah kita dapat melakukan sebuah perubahan. Hal lain yang terpikirkan pada malam itu, masih banyak sekali mahasiswa juga mahsiswa yang ikut IMM alergi dengan aksi, buta dengan sistem yang menindas rakyat. Sehingga mereka memilih untuk tidak ikut aksi, Mereka terlalu sibuk belajar lantaran takut nilainya jelek, dalam kondisi seperti ini sebenarnya Mahasiwa tadi itu dalam keadaan tertindas oleh belunggu akademik atau perkuliahan, sehingga mereka sudah kehilangan identas sejatinya sebagai mahasiswa, yaitu sebagai agen perubahan dan kontrol di masayarakat. Sadarlah, Bahwa mahasiswa punya kebebasan, raihlah kebebasan itu untuk perubahan bangsa kita ini.

       Kemudian saya sedikit menyinggung wacana kenaikan harga BBM yang rencananya bulan ini akan dinaikkan oleh pemerintah baru Joko Widodo. Dengan tegas dalam orasi saya menolak keras kenaikan harga BBM. kebijakan menaikkan harga BBM itu akan semakin menyesengsarakan rakyat indonesia. saya katakan BBM itu sudah menjadi jantung bagi kehidupan bangsa ini. lihatlah kalau harga BBM itu naik, harga sembako, barang dan jasa semua akan ikut naik. kemarin direktur PT Indofood mengatakan kalau harga barang naik karena harga BBM naik, itu ngibul (bohong), itu tidak ada hubungannya. Tapi mari kita lihat fakta bahwa setiap pemerintah menaikkan harga BBM, harga sembako, barang, makanan, dll pasti juga ikut naik. Inisiatf pemerintah untuk menyelesaikan polemik kenaikan harga BBM ini meluncur sebuah 3 kartu sakti, yaitu Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pinter (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Ternyata kartu ini belum sakti sesuai dengan namanya karena kehadiran 3 kartu itu masih dipertanyakan Prosedur dan undang-undangnya. Dan hal itu terkesan polanya sama seperti pemerintahan SBY sebelumnya apabila ada kenaikan BBM rakyat mendapat bantuan oleh pemerintah.

        Sebenarnya dalam kasus  BBM ini, pemerintah jangan hanya mewacanakan kenaikan harga. Tapi pemerintah juga harus bersikap tegas untuk menyelesaikan masalah mafia-mafia minyak. Sungguh ironis, alam indonesia ini sangat kaya, laut dan darat memiliki kekayaan yang luar biasa. Tapi faktanya kekayaan itu tidak pernah dinikmati oleh rakyatnya sendiri. dan kita hanya berharap kepada pemerintah sekarang untuk mengelolah kekayaan alam indonesia ini untuk dinikmati oleh rakyatnya sendiri. bukankah amat UUD 45 mengisyaratkan seperti itu bahwa kekayaan alam dikelolah oleh pemerintah untuk kepentingan rakyatnya sendiri. Maka jangan salahkan kami kalau  nanti Pemerintah tidak menjalankan amanat UUD 45 kami akan aksi turun jalan menuntut pemerintah Joko Widodo untuk bertanggung jawab bahkan kami tidak akan segan-segan untuk meminta Joko Widodo turun dari jabatannya sebagai Presiden. Karena prinsip kami adalah "kami tidak akan diam melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya.

       

Kamis, 06 November 2014

Hari Pahlawan dan Menanti Pahlawan Baru

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa akan jasa para pahlawannya.-Bung Karno


Untuk kesekian kalinya kita dipertemukan lagi dengan momentum peringatan Hari Pahlawan, 10 November. Peristiwa yang terjadi 69 tahun silam itu mengingatkan kita kembali semangat para pejuang-pejuang dahulu dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa kita dari bangsa kolonialis yang akan merenggut kemerderkaan bangsa kita. Pikiran dan fisik mereka pertaruhkan bahkan nyawa sekalipun mereka pertaruhkan hanya untuk kemenangan atau kemerdekaan.
Peringatan hari pahlawan atau yang sering disebut sebagai Refleksi, bukan kemudian dimaknai hanya sebagai peringatan atau refleksi belaka, yang hanya mengenang jasa-jasa mereka, mengadakan upacara peringatan, yang dihadiri orang-orang penting di negeri ini, menaikkan benderah tiang penuh, berpidato dan setelah acara itu selesai tidak ada satu pun makna sebenarnya yang harus dipetik dari peringatan itu, akhirnya kalau cara memperingatinya seperti itu dan diulangi setiap tahunnya, maka hari pahlawan itu akan kehilangan esensinya dan seolah-olah peristiwa 10 November dalam ruang hampa.
Sekali lagi, ini bukan hanya sekedar refleksi belaka, barangkali pertemuan dengan hari kepahlawanan kali ini mari kita maknai sebagai keterpanggilan. Sejatinya tanpa harus saya katakan di sini sebagai keterpanggilan, apabila kita sadar akan keberadaan kita sebagai anak bangsa, sehingga memaknai hari kepahlawanan ini merupakan keterpanggilan kita untuk menyelesaikan akan keringnya makna peringatan tersebut dan yang paling mendasar adalah ialah keterpanggilan kita untuk meneruskan perjuangan pahlawan terdahulu yaitu memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Secara kekuasan politik memang Indonesia telah merdeka, akan tetapi secara hakikatnya kita belum sepenuhnya merdeka. Tapi sampai saat ini secara ekonomi bangsa Indonesia belumlah merdeka. Senada dengan Tan Malaka bahwa merdeka 100 % itu ialah merdeka secara politik dan ekonomi. peristiwa 69 tahun silam yang dilakukan oleh para pejuang di Surabaya itu merupakan bentuk dari perjuangan politik untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan cara perang melawan penjajah inggris, dan pada akhirnya kita tetaplah merdeka secara politik. Maka hal yang memprihatingkan adalah bahwa bangsa kita ini sangat kaya, sumber daya alam yang sangat melimpah tapi bangsa kita sendiri tidak pernah menikmati kekayaan alam itu. Inilah dimaksud dengan ketidakmerdekaan dalam ekonomi.
Lihatlah keadaan rakyat kita sekarang, rakyat kita terbelenggu dengan kemiskinan, orang tua yang tidak sanggup menyekolahkan anak mereka karena mahalnya biaya pendidikan, pengangguran semakin bertambah, biaya hidup makin hari makin mahal, gaji buruh yang rendah, petani yang dirampas tanahnya, belum lagi virus korupsi yang telah menggurita di negeri ini. Tan Malaka pernah membuat sebuat ilustrasi tentang keadaan rakyat yang menyedihkan, Sebuah kenyataan puluhan tahun lamanya dan kenyataan itu sampai hari ini kita alami : Beberapa juta jiwa sekarang hidup dalam keadaan ‘pagi makan, petang tidak’. Mereka tidak bertanah dan beralat lagi, tidak berpengharapan di belakang hari. Kekuasaan atas tanah pabrik, alat-alat pengangkutan dan barang perdagangan, kini semuanya dipusatkan dalam tangan beberapa sindikat...demikianlah rakyat Indonesia tambah lama tambah miskin sebab gaji mereka tetap seperti biasa(malahan kerapkali diturunkan), sementara barang-barang makanan semakin mahal.
Dalam kondisi yang tergambar di atas adalah keterpanggilan untuk tidak lagi terjebak pada para pahlawan dulu dalam menyelesaikan persoalan di atas, melainkan menjadi pahlawan-pahlawan baru dalam menuntaskan permasalahan yang dialami oleh bangsa Indonesia.
            Para Pahlawan 10 November sudah berlalu, mereka telah melakukan apa yang seharusnya melakukan di zamannya. Kini saatnya muncul pahlawan-pahlawan baru, membuat sejarah-sejarah baru. Dikatakan pahlawan bukan berarti kita perang, akan tetapi pahlawan itu ialah orang yang memberikan perubahan dan melahirkan sejarah baru sesuai dengan zamannya. Mulai dari Pemimpin Pemerintah menjadi pahlawan bagi rakyatnya, atas kemiskinan, biaya pendidikan mahal, pengangguran, petani, buruh dan menjadi pahlawan atas virus korupsi yang sudah menggurita itu. Mahasiswa dan Pemuda menjadi pahlawan bagi bangsanya dan masih banyak lagi yang bisa jadi pahlawan-pahlawan baru itu.
            Kiranya itu yang kita harapkan  bahwa menperingati hari pahlawan kita maknai sebagai keterpanggilan untuk lahir sebagai pahlawan-pahlawan baru. 

Celana Anti Pemerkosaan : Sebuah Catatan Harian

06 Juni 2014

Tadi pagi tak sengaja berkunjung ke moseum kesehatan yang terletak di indra pura surabaya bersama temen-temen D3 Keperawatan. Pagi itu adalah kunjungan pertama saya ke moseum tersebut. Rasa penasaran tak tertahankan untuk segera masuk ke ruang moseum. Akhirnya bersama temen-temen ku segera masuk ke ruangnan.
Tertulis di depan pintu di kertas putih, moseum pintu 1, aku dan temen-temen segera masuk untuk melihat apa kiranya isi ruangan pintu 1 ini. Setelah masuk kami disambut oleh penjaga moseum. Penjaga itu pun langsung memberikan pengantar singkat terkait sejarah moseum kesehatan ini. Setelah diberikan pengantar singkat itu, segeralah aku melihat melihat barang-barang yang dipajang di moseum itu.
Temen-temen ku mulai memainkna matanya, melihat isi dalam rungan pintu 1 itu. Aku tak mau kalah dengan temen-temen ku ini. Aku pun mulai memandangn segala barang yang dipajang di ruangan ni. Aku kaget, ketawa dan langsung berpikir sejenak melihat salah satu barang yang dipaja dalam lemari berkaca. Pikiran saya, barangkali barang ini sangat berharga karena sampai dikunci lemarinya. Barang itu berupacelana mini untuk Perempuan berwarna biru, dikelilingi rantai barngkali itu sebagai pengamannya dan teruliskan “ Celana Anti Pemerkosaan”.
Saya dalam keadaan bertanya-tanya, Apa iya celana itu bisa membantu kaum perempuan untuk terbebas dalam pemerkosaan. Dan lebih anehnya, celana itu kenapa harus dipajang di moseum . Entah lah, apa maksudnya karena saya juga tidak sempat tanya ke penjaga moseum. Coba lah kita kaji lebih mendalam maksud dari celana ini.
Dengan maraknya kasus pemerkosaan atas kaum perempuan di negeri ini dengan berbagai modus. Apa iya, celana anti pemerkosaan ini harus dipake kemana-kemana oleh kaum perempuan sebagai antisipasi. Sungguh saya melihat ini adalah tindakan diskriminatif terhadap kaum perempuan. Katanya ilmu pengetahuan itu bersifat emansipasi, memanusiakan manusia. Apakah tidak ada cara lain lagi untuk menyelasaikan masalah pemerkosaan terhadap kaum perempuan.
Dengan adanya celana anti pemerkosaan, steriotip kaum perempuan adalah lemah itu semakin dibenarkan. Perempuan dijadikan objek kriminalisasi “pemerkosaan” oleh kaum laki-laki. Dalam konteks ini, laki-laki berkuasa atas hasrat sexsuailtasnya terhadap kaum perempuan. Bagaimana jika dikaji dalam perspektif gender, Simone De Beauvoir dalam bukunya The Second Sex menegaskan bahwa subordinasi atas kaum perempuan tidak dibenarkan secara biologis : Perempuan adalah manusia yang sama seperti laki-laki, dan memiliki status yang setara di semua aspek kehidupan publik.
            Maka dari itu menarik kiranya jika dikaji lebih mendalam lagi terkait keberadaan celana anti pemerkosaan ini. Terlebih dikaji secara mendalam dari perspektif gender.


Minggu, 02 November 2014

ORDIK : Pencerahan Atau Pembodohan


‘Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperluas perasaan’.-Tan Malaka

Orientasi dinamika kampus atau yang dikenal dengan singkatan ORDIKbarangkali tidak begitu asing di telinga Mahasiswa baru (Maba). Mungkin Maba pernah mendengar sebelumnya atau Maba yang punya kenalan mahasiswa sehingga bisa tanya sekilas tentang Ordik.ORDIK merupakan serangkain kegiatan tahunan yang diadakan oleh kampus untuk menyambut Mahasiswa baru (Maba) dan Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan terkait akademik, pelayanan dan fasilitas kampus yang akan didapatkan Maba selama kuliah.
Berbicara ordik, Seringkali ada yang berpikir bahwa kegiatan ini identik dengan hal-hal yang berbau negatif, tindakan-tindakan kekerasan atau penindasan yang dilakukan oleh seniornya (panitia ordik). Memberikan tugas yang sangat melelahkan dan disuru membawa sesuatu yang telah ditentukan panitia jika tidak mengerjakan tugas dan tidak membawa yang disuruh panitia maka akan diberikan hukuman.Lagi-lagi ketakutan yang akan dialami Maba kalau berbicara hukuman. Tindakan itu saya kira terlalu berlebihan dan tidak begitu mendidik ketika diperlakukan pada mahasiswa baru. Maksud berlebihan dan tidak mendidik di sini ketika mahasiswa baru tidak lagi dipahamkan pada jadi dirinya sebagai mahasiswa.
Mengorientasikan mahasiswa baru melalui ordik jangan terus diorientasi dengan hal-hal yang berupa fisik saja dan memberikan cara pandang bagaimama menjalani kehidupan di kampus dengan benar dan tepat. Lebih dari itu, yang perlu ditanamkan sejak awal kepada mahasiswa baru adalah mengubah cara berpikir (paradigma) mereka yang dulu siswa sekarang menjadi mahasiswa dan setelah itu membangun kesadaran kritis mereka akan realita kehidupan di kampus. Dua hal yang saya sebutkan itu, mengubah cara berpikir dan membangun kesadaran kritis adalah modal dasar dalam menjalani kehidupan di kampus.
Masalahnya kemudian, mahasiswa senior (panitia) dalam mendampingin adek-adeknya lupa dengan bentuk penyadaran-penyadaran seperti itu, entah karena seniornya hanya butuh eksistensi saja, kenal dengan adek-adek sudah cukup atau karena faktor masa lalu, mereka dulu dipermalukan semena-semena oleh seniornya dan sekarang dijadikan kesempatan sebagai ajang pembalasan. Saya kira adik-adik mahasiswa baru jangan dijadikan korban baru, senada dengan yang pernah disampaikan oleh Alm. Soe Hok gie, “ Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa, merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah, mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”, maka yang perlu ditekankan di sini adalah mahasiswa senior (panitia) sebagai fasilitator untuk mengantarkan mereka dalam kehidupan kampus. Kalau dari awal saja mahasiswa baru sudah dikondisikan pada ketidakberdayaan, hal itu akan berimbas ketika mereka sudah  hidup di fakultas mereka masing-masing. Diakui atau tidak bahwa di setiap fakultas masih ada dosen  yang berwatak “sok kuasa”, anti kritik dan mau nya sendiri. Akhirnya mahasiwa baru tadi tidak akan berdaya menghadapi dosen yang punya watak seperti tadi.

Untuk itu, berhasil atau tidak nya kegiatan ini saya menilai bukan dari keberhasilan acaranya, akan tetapi melalui kegiatan ini mahasiswa baru sudah mendapatkan pencerahan sesuai dengan status sosial baru mereka sebagai mahasiswa bukan sebaliknya, mereka mendapatkan pembodohan melalui kegiatan ini.