Kamis, 06 November 2014

Hari Pahlawan dan Menanti Pahlawan Baru

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa akan jasa para pahlawannya.-Bung Karno


Untuk kesekian kalinya kita dipertemukan lagi dengan momentum peringatan Hari Pahlawan, 10 November. Peristiwa yang terjadi 69 tahun silam itu mengingatkan kita kembali semangat para pejuang-pejuang dahulu dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa kita dari bangsa kolonialis yang akan merenggut kemerderkaan bangsa kita. Pikiran dan fisik mereka pertaruhkan bahkan nyawa sekalipun mereka pertaruhkan hanya untuk kemenangan atau kemerdekaan.
Peringatan hari pahlawan atau yang sering disebut sebagai Refleksi, bukan kemudian dimaknai hanya sebagai peringatan atau refleksi belaka, yang hanya mengenang jasa-jasa mereka, mengadakan upacara peringatan, yang dihadiri orang-orang penting di negeri ini, menaikkan benderah tiang penuh, berpidato dan setelah acara itu selesai tidak ada satu pun makna sebenarnya yang harus dipetik dari peringatan itu, akhirnya kalau cara memperingatinya seperti itu dan diulangi setiap tahunnya, maka hari pahlawan itu akan kehilangan esensinya dan seolah-olah peristiwa 10 November dalam ruang hampa.
Sekali lagi, ini bukan hanya sekedar refleksi belaka, barangkali pertemuan dengan hari kepahlawanan kali ini mari kita maknai sebagai keterpanggilan. Sejatinya tanpa harus saya katakan di sini sebagai keterpanggilan, apabila kita sadar akan keberadaan kita sebagai anak bangsa, sehingga memaknai hari kepahlawanan ini merupakan keterpanggilan kita untuk menyelesaikan akan keringnya makna peringatan tersebut dan yang paling mendasar adalah ialah keterpanggilan kita untuk meneruskan perjuangan pahlawan terdahulu yaitu memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Secara kekuasan politik memang Indonesia telah merdeka, akan tetapi secara hakikatnya kita belum sepenuhnya merdeka. Tapi sampai saat ini secara ekonomi bangsa Indonesia belumlah merdeka. Senada dengan Tan Malaka bahwa merdeka 100 % itu ialah merdeka secara politik dan ekonomi. peristiwa 69 tahun silam yang dilakukan oleh para pejuang di Surabaya itu merupakan bentuk dari perjuangan politik untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan cara perang melawan penjajah inggris, dan pada akhirnya kita tetaplah merdeka secara politik. Maka hal yang memprihatingkan adalah bahwa bangsa kita ini sangat kaya, sumber daya alam yang sangat melimpah tapi bangsa kita sendiri tidak pernah menikmati kekayaan alam itu. Inilah dimaksud dengan ketidakmerdekaan dalam ekonomi.
Lihatlah keadaan rakyat kita sekarang, rakyat kita terbelenggu dengan kemiskinan, orang tua yang tidak sanggup menyekolahkan anak mereka karena mahalnya biaya pendidikan, pengangguran semakin bertambah, biaya hidup makin hari makin mahal, gaji buruh yang rendah, petani yang dirampas tanahnya, belum lagi virus korupsi yang telah menggurita di negeri ini. Tan Malaka pernah membuat sebuat ilustrasi tentang keadaan rakyat yang menyedihkan, Sebuah kenyataan puluhan tahun lamanya dan kenyataan itu sampai hari ini kita alami : Beberapa juta jiwa sekarang hidup dalam keadaan ‘pagi makan, petang tidak’. Mereka tidak bertanah dan beralat lagi, tidak berpengharapan di belakang hari. Kekuasaan atas tanah pabrik, alat-alat pengangkutan dan barang perdagangan, kini semuanya dipusatkan dalam tangan beberapa sindikat...demikianlah rakyat Indonesia tambah lama tambah miskin sebab gaji mereka tetap seperti biasa(malahan kerapkali diturunkan), sementara barang-barang makanan semakin mahal.
Dalam kondisi yang tergambar di atas adalah keterpanggilan untuk tidak lagi terjebak pada para pahlawan dulu dalam menyelesaikan persoalan di atas, melainkan menjadi pahlawan-pahlawan baru dalam menuntaskan permasalahan yang dialami oleh bangsa Indonesia.
            Para Pahlawan 10 November sudah berlalu, mereka telah melakukan apa yang seharusnya melakukan di zamannya. Kini saatnya muncul pahlawan-pahlawan baru, membuat sejarah-sejarah baru. Dikatakan pahlawan bukan berarti kita perang, akan tetapi pahlawan itu ialah orang yang memberikan perubahan dan melahirkan sejarah baru sesuai dengan zamannya. Mulai dari Pemimpin Pemerintah menjadi pahlawan bagi rakyatnya, atas kemiskinan, biaya pendidikan mahal, pengangguran, petani, buruh dan menjadi pahlawan atas virus korupsi yang sudah menggurita itu. Mahasiswa dan Pemuda menjadi pahlawan bagi bangsanya dan masih banyak lagi yang bisa jadi pahlawan-pahlawan baru itu.
            Kiranya itu yang kita harapkan  bahwa menperingati hari pahlawan kita maknai sebagai keterpanggilan untuk lahir sebagai pahlawan-pahlawan baru. 

0 komentar:

Posting Komentar