“Jadilah Guru Sekaligus Murid”- KH Ahmad
Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)
Pada
edisi bulan lalu, buletin sandal jepit di rubric “The Voice” mengangkat sebuah
tema tentang proses perkuliahan di kampus UMSurabaya berupa hasil wawancara
dengan beberapa mahasiswa, di masing-masing fakultas. Hal ini dirasa menarik,
karena buletin sandal jepit sebagai media pencerahan menyodorkan pada kita, apa
yang seharusnya kita ketahui dan perlu kita diskusikan bersama.
Hasil wawancara yang dilakukan oleh reporter buletin
ini, dapat disimpulkan yaitu dalam proses perkuliahan di kampus yang ingin
mereka soroti sebernya adalah posisi antara dosen dan mahasiswa sebagai wujud
dari keberlangsungan proses perkuliahan. Hal itu jelas ketika mahasiswa
diwawancari itu memaparkan kualitas cara mengajar dosen dalam proses
perkuliahan. Sedangkan fasilitas pendukung juga mereka singgung, akan tetapi
tulisan ini akan ditujukan pada “subjek”nya,
yaitu memposisikan Dosen dalam perkuliahan. Ditambah lagi secara pengalaman
empiris sebagai mahasiswa, tema itu saya kira perlu tulis di sini. Dan perlu
saya sampaikan di sini tulisan ini hanya
hasil pemikiran yang dirasa menurut kami benar, bukan untuk menghakimi
apalagi menjelek-jelekkan dosen di kampus UMSurabaya ini.
Apa
yang dikatakan oleh mahasiswa yang diwawancara itu, sangat cukup untuk
menggambarkan ‘wajah’ dosen yang sebenarnya di lingkungan kampus UMSurabaya
ini. Terkait kualitas dosen dalam perkuliahan yang masih perlu dipertanyakan.
Mereka sebagain tidak puas, karena ketika perkuliahan dosen terlalu
mengeksplorkan materi, terlalu terpaku pada PPT sehingga monoton, tidak mampu
mengajak mahasiswa untuk diskusi ditambah lagi dengan dosen yang sulit untuk
dihubungi, sulit dan kadang-kadang seenaknya sendiri dalam mengatur jadwal.
Apalagi kalau males mengajar, dosen memberikan tugas kepada mahasiswa.
Sebagai
mahasiswa saya juga sepakat dengan ungkapan tentang dosen. Kalau mahasiswa
teliti pasti akan ketemu dengan wajah dosen yang demikian. Kalau boleh jujur, kehadiran dosen pun tidak
sesuai dengan beban SKS yang diberikan.
Saya menemukan dosen ketika mengajar terburu-terburu lantaran ada agenda lain,
rapat. Akhirnya dosen tadi itu
memberikan perkuliahan hanya sebentar saja, sehingga waktunnya tidak sesuai
dengan beban SKS. Belum lagi dosen yang sulitnya minta ampun dihubungi, ini
mengesankan elitismnya dosen. Menurut saya dosen juga perlu dikontrol. Rasanya
tidak fair ketika mengevaluasia
proses perkuliahan hanya mahasiswa yang menjadi sasaran empuk, akan tetapi di
sini dosen juga perlu dievaluasi.
Paulo
Friere, dalam bukunya berjudul “Pendidikian Kaum Tertindas” Sistem pendidikan
jangan disamakan dengan sistem Bank, yaitu dimana mahasiswa dianggap nasabah
sedangkan Dosen sebagai pemilik Bank. Nasabah artinya orang yang menyimpan
uangnya di bank dan Dosen, pemilik bank
bertugas untuk menyimpan uang si nasabah. Dosen sebagai subjek sedangkan
mahasiswa dianggap objek. Dalam disistem ini mahasiswa dianggap sepeti gelas
kosong, sehingga dosen hanya memberikan ilmu semaunya sampai gelas kosong tadi
dapat terisi. Dosen tridak mampu mengajak mahasiswanya untuk berpikir kritis
dan menyelesaikan persoalan. Menurut Friere, sistem seperti itu merupakan
bentuk penindasan dari suatu pendidikan. Mahasiswa hanya dibuat statis, dan
selanjutnya mahasiswa tadi ketika berada ditengah-tengah masyarakat akan
menjadi penindas baru oleh karena sistem pendidikan yang statis itu. Meminjam
istilah Friere seharusnya sistem pendidikan menjadi kekuatan
penyadaran dan pembebas umat manusia.
Ada
kesamaan antara yang disampaikan oleh mahasiswa diwawancara tadi dengan yang
digugat oleh Paulo Friere terkait sistem pendidikan. Agaknya sistem
pendidikan/perkuliahan yang dilakukan oleh dosen mengarah pada sistem bank itu.
Hubungan antara dosen dengan mahasiswa, layaknya hubungan antara subjek dengan
objek. Makna subjek di sini punya wewenang untuk melakukan apa saja sedangkan
objek adalah statis, hanya menerima apa yang dilakukan subjek. Kalau pengertian
Friere berarti dosen melakukan penindasan bagi mahasiswanya melalui sistem
pendidikan.
Saya
berharap dosen sadar akan eksistensi sebagai dosen sehingga penindasan terhadap
mahasiswa tidak terjadi. jangan maknai hubungan dosen dengan mahasiswa, seperti
subjek dengan objek akan tetapi antara keduanya kedudukannya sama. seperti yang
dikatakan KH Ahmad Dahlan, Jadilah guru (Dosen) sekaligus murid (mahasiswa),
artinya dosen juga mengajar dan juga belajar kepada mahasiswa.