Kamis, 18 Desember 2014

Wajah Dosen di Kampus UMSurabaya Yang Perlu Dikontrol

“Jadilah Guru Sekaligus Murid”- KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)

Pada edisi bulan lalu, buletin sandal jepit di rubric “The Voice” mengangkat sebuah tema tentang proses perkuliahan di kampus UMSurabaya berupa hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa, di masing-masing fakultas. Hal ini dirasa menarik, karena buletin sandal jepit sebagai media pencerahan menyodorkan pada kita, apa yang seharusnya kita ketahui dan perlu kita diskusikan bersama.
 Hasil  wawancara yang dilakukan oleh reporter buletin ini, dapat disimpulkan yaitu dalam proses perkuliahan di kampus yang ingin mereka soroti sebernya adalah posisi antara dosen dan mahasiswa sebagai wujud dari keberlangsungan proses perkuliahan. Hal itu jelas ketika mahasiswa diwawancari itu memaparkan kualitas cara mengajar dosen dalam proses perkuliahan. Sedangkan fasilitas pendukung juga mereka singgung, akan tetapi tulisan ini akan ditujukan  pada “subjek”nya, yaitu memposisikan Dosen dalam perkuliahan. Ditambah lagi secara pengalaman empiris sebagai mahasiswa, tema itu saya kira perlu tulis di sini. Dan perlu saya sampaikan di sini tulisan ini hanya  hasil pemikiran yang dirasa menurut kami benar, bukan untuk menghakimi apalagi menjelek-jelekkan dosen di kampus UMSurabaya ini.
Apa yang dikatakan oleh mahasiswa yang diwawancara itu, sangat cukup untuk menggambarkan ‘wajah’ dosen yang sebenarnya di lingkungan kampus UMSurabaya ini. Terkait kualitas dosen dalam perkuliahan yang masih perlu dipertanyakan. Mereka sebagain tidak puas, karena ketika perkuliahan dosen terlalu mengeksplorkan materi, terlalu terpaku pada PPT sehingga monoton, tidak mampu mengajak mahasiswa untuk diskusi ditambah lagi dengan dosen yang sulit untuk dihubungi, sulit dan kadang-kadang seenaknya sendiri dalam mengatur jadwal. Apalagi kalau males mengajar, dosen memberikan tugas kepada mahasiswa.
Sebagai mahasiswa saya juga sepakat dengan ungkapan tentang dosen. Kalau mahasiswa teliti pasti akan ketemu dengan wajah dosen yang demikian.  Kalau boleh jujur, kehadiran dosen pun tidak sesuai dengan  beban SKS yang diberikan. Saya menemukan dosen ketika mengajar terburu-terburu lantaran ada agenda lain, rapat. Akhirnya  dosen tadi itu memberikan perkuliahan hanya sebentar saja, sehingga waktunnya tidak sesuai dengan beban SKS. Belum lagi dosen yang sulitnya minta ampun dihubungi, ini mengesankan elitismnya dosen. Menurut saya dosen juga perlu dikontrol. Rasanya tidak fair ketika mengevaluasia proses perkuliahan hanya mahasiswa yang menjadi sasaran empuk, akan tetapi di sini dosen juga perlu dievaluasi.
Paulo Friere, dalam bukunya berjudul “Pendidikian Kaum Tertindas” Sistem pendidikan jangan disamakan dengan sistem Bank, yaitu dimana mahasiswa dianggap nasabah sedangkan Dosen sebagai pemilik Bank. Nasabah artinya orang yang menyimpan uangnya di bank dan Dosen, pemilik bank  bertugas untuk menyimpan uang si nasabah. Dosen sebagai subjek sedangkan mahasiswa dianggap objek. Dalam disistem ini mahasiswa dianggap sepeti gelas kosong, sehingga dosen hanya memberikan ilmu semaunya sampai gelas kosong tadi dapat terisi. Dosen tridak mampu mengajak mahasiswanya untuk berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan. Menurut Friere, sistem seperti itu merupakan bentuk penindasan dari suatu pendidikan. Mahasiswa hanya dibuat statis, dan selanjutnya mahasiswa tadi ketika berada ditengah-tengah masyarakat akan menjadi penindas baru oleh karena sistem pendidikan yang statis itu. Meminjam istilah Friere seharusnya sistem pendidikan menjadi  kekuatan  penyadaran dan pembebas umat manusia.
Ada kesamaan antara yang disampaikan oleh mahasiswa diwawancara tadi dengan yang digugat oleh Paulo Friere terkait sistem pendidikan. Agaknya sistem pendidikan/perkuliahan yang dilakukan oleh dosen mengarah pada sistem bank itu. Hubungan antara dosen dengan mahasiswa, layaknya hubungan antara subjek dengan objek. Makna subjek di sini punya wewenang untuk melakukan apa saja sedangkan objek adalah statis, hanya menerima apa yang dilakukan subjek. Kalau pengertian Friere berarti dosen melakukan penindasan bagi mahasiswanya melalui sistem pendidikan.

Saya berharap dosen sadar akan eksistensi sebagai dosen sehingga penindasan terhadap mahasiswa tidak terjadi. jangan maknai hubungan dosen dengan mahasiswa, seperti subjek dengan objek akan tetapi antara keduanya kedudukannya sama. seperti yang dikatakan KH Ahmad Dahlan, Jadilah guru (Dosen) sekaligus murid (mahasiswa), artinya dosen juga mengajar dan juga belajar kepada mahasiswa.

Jumat, 12 Desember 2014

Sebatas Catatan : Pemikiran untuk Koorkom UMSurabaya

Sabtu-Minggu ini, koorkom IMM UMsurabaya akan mengadakan Musyarawarah (Musykoorkom). Acara yang wajib dilakukan setiap tahunnya ini dalam rangka untuk memillih kepengurusan baru dengan melalui mekanisme pemiihan ketua umum dan formatur. Harapan yang tak pernah hilang,  kita selalu mengharapkan sebuah perubahan dalam setiap pergantian kepengurusan.
 Seberapa penting keberadaan koorkom di kampus? Pertanyaan selintingan  namun menusuk ini seringkali menjadi bahan  refleksi akan keberadaannya. Ada yang mengatakan bahwa koorkom adalah kepanjangan tangan cabang untuk mengkoordinir seluruh komisariat yang ada di kampus. Pun juga ada yang mengatakan bahwa korkom adalah sesuai kebutuhan komisariat, dengan kata lain kalau komisariat tidak butuh korkom maka kehadiran korkom di kampus tidak dibutuhkan. Setahu saya di surabaya kampus yang ada korkomnya ialah, Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), Universitas Islam Universitas (UIN) dan Universitas Negeri surabaya (UNESA) dan kampus yang terdapat IMM tapi tidak ada koorkomnya ialah, Universitas Airlangga Surabaya(UNAIR) dan Instiitut Sepuluh november Surabaya (ITS) dan Universitas adi buana Surabaya (UNIPA) karena alasan rasionalnya jumlah komisariat dari kedua kampus ini, tidak perlu menggunakan Koorkom. UNAIR dua Komisariat , ITS dan UNIPA satu Komisariat.
Kedua cara pandang di atas saya kira wajar, karena sampai hari ini keberadaan korkom di tiap-tiap kampus belum juga diatur secara baku di AD/ART IMM. Maka  untuk menjawab pertanyaan di atas, menurut pandangan saya keberadaan koorkom sangat diperlukan di kampus, dengan jumlah komisariat yang relatif banyak untuk mengkordinir seluruh komisariat. Sesuai dengan nama saja, maka koorkom adalah sebagai bagan yang bertugas mengkoordinir kepentingan masing-masing komisariat, lebih-lebih dapat mensinergikan antar komisariat dan  mampu menjadi jembatan komunikasi antara kepentingan cabang dengan komisariat maupun sebaliknya.
Menilisik koorkom di kampus UMSurabaya, yang  sebentar lagi mengadakan musyawarah ini, perlu kiranya mengetahui peran yang dilakukan sebagaimana eksistensinya sebagai koorkom selama ini. Sejauh apa yang saya ketahui selama menjabat sebagai pimpinan di komisariat dan posisi itu saya kira yang dapat mengetahui peran yang dilakukan oleh koorkom.
Bagi saya ada hal yang dilupakan barangkali oleh koorkom dan saya kira ini menjadi bahan koreksi supaya peristiwa itu tidak diulangi lagi, yaitu kurang maksimalnya ruang komunikasi delibaratif yang dilakukan oleh koorkom. Diperiode sebelum-sebelumnya, saya melihat di awal-awal periode ada upaya untuk mengarah ke sana dan itu dilakukan oleh masing-masing bidang. Dan dipertengahan dan diakhir periodenya seakan upaya itu hilang entah kemana. Saya kira komunikasi delibaritif ini sangat penting mengingat bahwa koorkom adalah wadah  yang mengkoordinir dan harus mengetahui keadaan di bawah (komisariat).
            Maka pola pendampingan yang continyu perlu digalakkan oleh Koorkom sebuah keharusan agar dirasa mampu untuk mengkoordinir seluruh komisariat di kampus UMSurabaya. Walapun itu terasa ideal dan kurang realistik, karena saya kira ada hambatan yang ini sudah menjadi rahasia di internal, yaitu terdapat komisariat yang sulitnya untuk dikoordinir. Saya sebut saja di sini, komisariat FAI. Berbagai cara untuk membujuk komisariat satu ini, akan tetapi sejauh dari pengamatan saya komisariat FAI masih susah untuk dikoordinir terlepas karena ada luka sejarah atau tendensi komisariat hal itu masih menjadi tanda tanya. Ditambah lagi,menurut pembacaan saya pribadi dan teman-teman komisariat ekonomi sudah berjalan sendiri, sudah sulit untuk dikoordinir dan berjalan bareng.
            Saya kira pembacaan yang sederhana di atas itu menjadi tugas untuk koorkom ke depan. Memang terasa berat ketika membayangkan tugas untuk menyelesaikan persoalan di atas, akan tetapi ketika kita sadar akan eksistensi koorkom maka orang yang nantinya akan menduduki pimpinan baru di koorkom harus menyelesaikan persoalan itu.
            Langkah yang saya sebutkan diatas, komunikasi deliberatif itu perlu dilakukan secara continyu, katakan sebulan sekali, terutama komisariat yang sekiranya sulit dirangkul, tentu dengan cara ini tidak akan ada khasiatnya jikalau masih ada egoisme dari komisariat sendiri karena komunikasi deliberatif ini akan ada khasiat ketika dalam berkomunikasi mampu cair dan egaliter. Setelah itu pendampingan yang intens atas seluruh komisariat harus dilakukan oleh koorkom ke depan dan terakhir menghidupkan kembai sekret sebagai basis kegiatan koorkom dengan seluruh komisariat, karena aktifitas di sekret saya kira dapat membangun emosional antar kader, komisariat dengan koorkom.

                   Hanya sebatas catatan dan pemikiran sederhana ini yang bisa haturkan untuk koorkom ke depan, kalau boleh jujur secara pribadi terjadi pergolatan dalam diriku, jika hanya dapat menulisakan sebuah cacatan ini, tanpa harus terlibat langsung untuk memperbaiki IMM di kampus UMSurabaya. 
Semoga dapat koorkom kedepan ini mampu memberikan perubahan, baik di koorkom sendiri dan seluruh komisariat. Apalagi koorkom ke depan mempunyai tambahan tugas untuk mendampingi dan membimbing komisariat yang saja dilahirkan, yaitu IMM komisariat Psikologi. Saya ucapkan selamat untuk Nurrima Dini Elysa yang telah diamanahi sebagai Ketua Umum IMM komisariat Psikologi.