Senin, 10 November 2014

Malam Ini Aku Kembali Aksi Turun Jalan

Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan
.-Soe Hok Gie



  

   Tadi malam aku kembali Aksi turun jalan, dalam rangka memperingati hari pahlawan dan menolak kenaikan harga BBM. Aksi yang diadakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Surabaya itu dihadiri oleh beberapa kader dari Koorkom maupun Komisariat di Suarabaya berjalan dengan Sayalancar setelah melakukan orasi dan ditutup dengan sebuah teatrikal.

      Malam itu aku kembali Orasi, dalam orasiku, aku mengingatkan kepada kawan-kawan yang ikut aksi bahwa Bung Karno pernah mengatakan "Tugasku lebih ringan daripada tugas kalian nanti, yaitu tugasku hanya mengusir penjajah asing di negeri ini, Tapi tugas kalian lebih berat yaitu mengusir penjajah negeri sendiri".  Diawal Orasi aku memang sengaja menyampaikan pesan bung Karno itu, karena mengingat perjuangan yang dilakukan dulu oleh para pahlawan kita adalah penjajah asing, tapi sekarang sudah berganti yang dilawan sekarang adalah penjajah dari negeri sendiri. Betapa sedihnya, kalau bangsa ini rusak oleh anaknya sendiri, rakyat semakin ditindas oleh sistem yang dibuat oleh anak bangsa sendiri; kemisikinan, pengangguran, dll itu, sudah menjadi kawan setia bagi rakyat kita, kalau lah perlu menuntut siapakah yang bertanggung jawab atas kondisi bangsa yang makin hari makin rusak ini?. Mari kita sama-sama merenungkan dengan hati nuranu anak bangsa untuk menjawab pertanyaan itu.

       Di hari Pahlawan ini, mulai hari ini, detik ini kita harus lahir sebagai pahlawan-pahlawan baru. pahlawan untuk bangsa kita ini. Lanjut orasiku. Pesan yang sangat emosional itu aku sampaikan dengan harapan dapat merkokoh spirit perlawan dan menumbuhkan sikap optimisme kawan-kawan yang ikut aksi pada malam itu. karena hanya dengan spirit perlawan dan sikap optimisme itulah kita dapat melakukan sebuah perubahan. Hal lain yang terpikirkan pada malam itu, masih banyak sekali mahasiswa juga mahsiswa yang ikut IMM alergi dengan aksi, buta dengan sistem yang menindas rakyat. Sehingga mereka memilih untuk tidak ikut aksi, Mereka terlalu sibuk belajar lantaran takut nilainya jelek, dalam kondisi seperti ini sebenarnya Mahasiwa tadi itu dalam keadaan tertindas oleh belunggu akademik atau perkuliahan, sehingga mereka sudah kehilangan identas sejatinya sebagai mahasiswa, yaitu sebagai agen perubahan dan kontrol di masayarakat. Sadarlah, Bahwa mahasiswa punya kebebasan, raihlah kebebasan itu untuk perubahan bangsa kita ini.

       Kemudian saya sedikit menyinggung wacana kenaikan harga BBM yang rencananya bulan ini akan dinaikkan oleh pemerintah baru Joko Widodo. Dengan tegas dalam orasi saya menolak keras kenaikan harga BBM. kebijakan menaikkan harga BBM itu akan semakin menyesengsarakan rakyat indonesia. saya katakan BBM itu sudah menjadi jantung bagi kehidupan bangsa ini. lihatlah kalau harga BBM itu naik, harga sembako, barang dan jasa semua akan ikut naik. kemarin direktur PT Indofood mengatakan kalau harga barang naik karena harga BBM naik, itu ngibul (bohong), itu tidak ada hubungannya. Tapi mari kita lihat fakta bahwa setiap pemerintah menaikkan harga BBM, harga sembako, barang, makanan, dll pasti juga ikut naik. Inisiatf pemerintah untuk menyelesaikan polemik kenaikan harga BBM ini meluncur sebuah 3 kartu sakti, yaitu Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pinter (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Ternyata kartu ini belum sakti sesuai dengan namanya karena kehadiran 3 kartu itu masih dipertanyakan Prosedur dan undang-undangnya. Dan hal itu terkesan polanya sama seperti pemerintahan SBY sebelumnya apabila ada kenaikan BBM rakyat mendapat bantuan oleh pemerintah.

        Sebenarnya dalam kasus  BBM ini, pemerintah jangan hanya mewacanakan kenaikan harga. Tapi pemerintah juga harus bersikap tegas untuk menyelesaikan masalah mafia-mafia minyak. Sungguh ironis, alam indonesia ini sangat kaya, laut dan darat memiliki kekayaan yang luar biasa. Tapi faktanya kekayaan itu tidak pernah dinikmati oleh rakyatnya sendiri. dan kita hanya berharap kepada pemerintah sekarang untuk mengelolah kekayaan alam indonesia ini untuk dinikmati oleh rakyatnya sendiri. bukankah amat UUD 45 mengisyaratkan seperti itu bahwa kekayaan alam dikelolah oleh pemerintah untuk kepentingan rakyatnya sendiri. Maka jangan salahkan kami kalau  nanti Pemerintah tidak menjalankan amanat UUD 45 kami akan aksi turun jalan menuntut pemerintah Joko Widodo untuk bertanggung jawab bahkan kami tidak akan segan-segan untuk meminta Joko Widodo turun dari jabatannya sebagai Presiden. Karena prinsip kami adalah "kami tidak akan diam melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya.

       

Kamis, 06 November 2014

Hari Pahlawan dan Menanti Pahlawan Baru

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa akan jasa para pahlawannya.-Bung Karno


Untuk kesekian kalinya kita dipertemukan lagi dengan momentum peringatan Hari Pahlawan, 10 November. Peristiwa yang terjadi 69 tahun silam itu mengingatkan kita kembali semangat para pejuang-pejuang dahulu dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa kita dari bangsa kolonialis yang akan merenggut kemerderkaan bangsa kita. Pikiran dan fisik mereka pertaruhkan bahkan nyawa sekalipun mereka pertaruhkan hanya untuk kemenangan atau kemerdekaan.
Peringatan hari pahlawan atau yang sering disebut sebagai Refleksi, bukan kemudian dimaknai hanya sebagai peringatan atau refleksi belaka, yang hanya mengenang jasa-jasa mereka, mengadakan upacara peringatan, yang dihadiri orang-orang penting di negeri ini, menaikkan benderah tiang penuh, berpidato dan setelah acara itu selesai tidak ada satu pun makna sebenarnya yang harus dipetik dari peringatan itu, akhirnya kalau cara memperingatinya seperti itu dan diulangi setiap tahunnya, maka hari pahlawan itu akan kehilangan esensinya dan seolah-olah peristiwa 10 November dalam ruang hampa.
Sekali lagi, ini bukan hanya sekedar refleksi belaka, barangkali pertemuan dengan hari kepahlawanan kali ini mari kita maknai sebagai keterpanggilan. Sejatinya tanpa harus saya katakan di sini sebagai keterpanggilan, apabila kita sadar akan keberadaan kita sebagai anak bangsa, sehingga memaknai hari kepahlawanan ini merupakan keterpanggilan kita untuk menyelesaikan akan keringnya makna peringatan tersebut dan yang paling mendasar adalah ialah keterpanggilan kita untuk meneruskan perjuangan pahlawan terdahulu yaitu memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Secara kekuasan politik memang Indonesia telah merdeka, akan tetapi secara hakikatnya kita belum sepenuhnya merdeka. Tapi sampai saat ini secara ekonomi bangsa Indonesia belumlah merdeka. Senada dengan Tan Malaka bahwa merdeka 100 % itu ialah merdeka secara politik dan ekonomi. peristiwa 69 tahun silam yang dilakukan oleh para pejuang di Surabaya itu merupakan bentuk dari perjuangan politik untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan cara perang melawan penjajah inggris, dan pada akhirnya kita tetaplah merdeka secara politik. Maka hal yang memprihatingkan adalah bahwa bangsa kita ini sangat kaya, sumber daya alam yang sangat melimpah tapi bangsa kita sendiri tidak pernah menikmati kekayaan alam itu. Inilah dimaksud dengan ketidakmerdekaan dalam ekonomi.
Lihatlah keadaan rakyat kita sekarang, rakyat kita terbelenggu dengan kemiskinan, orang tua yang tidak sanggup menyekolahkan anak mereka karena mahalnya biaya pendidikan, pengangguran semakin bertambah, biaya hidup makin hari makin mahal, gaji buruh yang rendah, petani yang dirampas tanahnya, belum lagi virus korupsi yang telah menggurita di negeri ini. Tan Malaka pernah membuat sebuat ilustrasi tentang keadaan rakyat yang menyedihkan, Sebuah kenyataan puluhan tahun lamanya dan kenyataan itu sampai hari ini kita alami : Beberapa juta jiwa sekarang hidup dalam keadaan ‘pagi makan, petang tidak’. Mereka tidak bertanah dan beralat lagi, tidak berpengharapan di belakang hari. Kekuasaan atas tanah pabrik, alat-alat pengangkutan dan barang perdagangan, kini semuanya dipusatkan dalam tangan beberapa sindikat...demikianlah rakyat Indonesia tambah lama tambah miskin sebab gaji mereka tetap seperti biasa(malahan kerapkali diturunkan), sementara barang-barang makanan semakin mahal.
Dalam kondisi yang tergambar di atas adalah keterpanggilan untuk tidak lagi terjebak pada para pahlawan dulu dalam menyelesaikan persoalan di atas, melainkan menjadi pahlawan-pahlawan baru dalam menuntaskan permasalahan yang dialami oleh bangsa Indonesia.
            Para Pahlawan 10 November sudah berlalu, mereka telah melakukan apa yang seharusnya melakukan di zamannya. Kini saatnya muncul pahlawan-pahlawan baru, membuat sejarah-sejarah baru. Dikatakan pahlawan bukan berarti kita perang, akan tetapi pahlawan itu ialah orang yang memberikan perubahan dan melahirkan sejarah baru sesuai dengan zamannya. Mulai dari Pemimpin Pemerintah menjadi pahlawan bagi rakyatnya, atas kemiskinan, biaya pendidikan mahal, pengangguran, petani, buruh dan menjadi pahlawan atas virus korupsi yang sudah menggurita itu. Mahasiswa dan Pemuda menjadi pahlawan bagi bangsanya dan masih banyak lagi yang bisa jadi pahlawan-pahlawan baru itu.
            Kiranya itu yang kita harapkan  bahwa menperingati hari pahlawan kita maknai sebagai keterpanggilan untuk lahir sebagai pahlawan-pahlawan baru. 

Celana Anti Pemerkosaan : Sebuah Catatan Harian

06 Juni 2014

Tadi pagi tak sengaja berkunjung ke moseum kesehatan yang terletak di indra pura surabaya bersama temen-temen D3 Keperawatan. Pagi itu adalah kunjungan pertama saya ke moseum tersebut. Rasa penasaran tak tertahankan untuk segera masuk ke ruang moseum. Akhirnya bersama temen-temen ku segera masuk ke ruangnan.
Tertulis di depan pintu di kertas putih, moseum pintu 1, aku dan temen-temen segera masuk untuk melihat apa kiranya isi ruangan pintu 1 ini. Setelah masuk kami disambut oleh penjaga moseum. Penjaga itu pun langsung memberikan pengantar singkat terkait sejarah moseum kesehatan ini. Setelah diberikan pengantar singkat itu, segeralah aku melihat melihat barang-barang yang dipajang di moseum itu.
Temen-temen ku mulai memainkna matanya, melihat isi dalam rungan pintu 1 itu. Aku tak mau kalah dengan temen-temen ku ini. Aku pun mulai memandangn segala barang yang dipajang di ruangan ni. Aku kaget, ketawa dan langsung berpikir sejenak melihat salah satu barang yang dipaja dalam lemari berkaca. Pikiran saya, barangkali barang ini sangat berharga karena sampai dikunci lemarinya. Barang itu berupacelana mini untuk Perempuan berwarna biru, dikelilingi rantai barngkali itu sebagai pengamannya dan teruliskan “ Celana Anti Pemerkosaan”.
Saya dalam keadaan bertanya-tanya, Apa iya celana itu bisa membantu kaum perempuan untuk terbebas dalam pemerkosaan. Dan lebih anehnya, celana itu kenapa harus dipajang di moseum . Entah lah, apa maksudnya karena saya juga tidak sempat tanya ke penjaga moseum. Coba lah kita kaji lebih mendalam maksud dari celana ini.
Dengan maraknya kasus pemerkosaan atas kaum perempuan di negeri ini dengan berbagai modus. Apa iya, celana anti pemerkosaan ini harus dipake kemana-kemana oleh kaum perempuan sebagai antisipasi. Sungguh saya melihat ini adalah tindakan diskriminatif terhadap kaum perempuan. Katanya ilmu pengetahuan itu bersifat emansipasi, memanusiakan manusia. Apakah tidak ada cara lain lagi untuk menyelasaikan masalah pemerkosaan terhadap kaum perempuan.
Dengan adanya celana anti pemerkosaan, steriotip kaum perempuan adalah lemah itu semakin dibenarkan. Perempuan dijadikan objek kriminalisasi “pemerkosaan” oleh kaum laki-laki. Dalam konteks ini, laki-laki berkuasa atas hasrat sexsuailtasnya terhadap kaum perempuan. Bagaimana jika dikaji dalam perspektif gender, Simone De Beauvoir dalam bukunya The Second Sex menegaskan bahwa subordinasi atas kaum perempuan tidak dibenarkan secara biologis : Perempuan adalah manusia yang sama seperti laki-laki, dan memiliki status yang setara di semua aspek kehidupan publik.
            Maka dari itu menarik kiranya jika dikaji lebih mendalam lagi terkait keberadaan celana anti pemerkosaan ini. Terlebih dikaji secara mendalam dari perspektif gender.


Minggu, 02 November 2014

ORDIK : Pencerahan Atau Pembodohan


‘Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperluas perasaan’.-Tan Malaka

Orientasi dinamika kampus atau yang dikenal dengan singkatan ORDIKbarangkali tidak begitu asing di telinga Mahasiswa baru (Maba). Mungkin Maba pernah mendengar sebelumnya atau Maba yang punya kenalan mahasiswa sehingga bisa tanya sekilas tentang Ordik.ORDIK merupakan serangkain kegiatan tahunan yang diadakan oleh kampus untuk menyambut Mahasiswa baru (Maba) dan Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan terkait akademik, pelayanan dan fasilitas kampus yang akan didapatkan Maba selama kuliah.
Berbicara ordik, Seringkali ada yang berpikir bahwa kegiatan ini identik dengan hal-hal yang berbau negatif, tindakan-tindakan kekerasan atau penindasan yang dilakukan oleh seniornya (panitia ordik). Memberikan tugas yang sangat melelahkan dan disuru membawa sesuatu yang telah ditentukan panitia jika tidak mengerjakan tugas dan tidak membawa yang disuruh panitia maka akan diberikan hukuman.Lagi-lagi ketakutan yang akan dialami Maba kalau berbicara hukuman. Tindakan itu saya kira terlalu berlebihan dan tidak begitu mendidik ketika diperlakukan pada mahasiswa baru. Maksud berlebihan dan tidak mendidik di sini ketika mahasiswa baru tidak lagi dipahamkan pada jadi dirinya sebagai mahasiswa.
Mengorientasikan mahasiswa baru melalui ordik jangan terus diorientasi dengan hal-hal yang berupa fisik saja dan memberikan cara pandang bagaimama menjalani kehidupan di kampus dengan benar dan tepat. Lebih dari itu, yang perlu ditanamkan sejak awal kepada mahasiswa baru adalah mengubah cara berpikir (paradigma) mereka yang dulu siswa sekarang menjadi mahasiswa dan setelah itu membangun kesadaran kritis mereka akan realita kehidupan di kampus. Dua hal yang saya sebutkan itu, mengubah cara berpikir dan membangun kesadaran kritis adalah modal dasar dalam menjalani kehidupan di kampus.
Masalahnya kemudian, mahasiswa senior (panitia) dalam mendampingin adek-adeknya lupa dengan bentuk penyadaran-penyadaran seperti itu, entah karena seniornya hanya butuh eksistensi saja, kenal dengan adek-adek sudah cukup atau karena faktor masa lalu, mereka dulu dipermalukan semena-semena oleh seniornya dan sekarang dijadikan kesempatan sebagai ajang pembalasan. Saya kira adik-adik mahasiswa baru jangan dijadikan korban baru, senada dengan yang pernah disampaikan oleh Alm. Soe Hok gie, “ Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa, merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah, mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”, maka yang perlu ditekankan di sini adalah mahasiswa senior (panitia) sebagai fasilitator untuk mengantarkan mereka dalam kehidupan kampus. Kalau dari awal saja mahasiswa baru sudah dikondisikan pada ketidakberdayaan, hal itu akan berimbas ketika mereka sudah  hidup di fakultas mereka masing-masing. Diakui atau tidak bahwa di setiap fakultas masih ada dosen  yang berwatak “sok kuasa”, anti kritik dan mau nya sendiri. Akhirnya mahasiwa baru tadi tidak akan berdaya menghadapi dosen yang punya watak seperti tadi.

Untuk itu, berhasil atau tidak nya kegiatan ini saya menilai bukan dari keberhasilan acaranya, akan tetapi melalui kegiatan ini mahasiswa baru sudah mendapatkan pencerahan sesuai dengan status sosial baru mereka sebagai mahasiswa bukan sebaliknya, mereka mendapatkan pembodohan melalui kegiatan ini.

Sumpah Pemuda dan Harapan BAru

Di bulan Oktober ini, bangsa Indonesia dipertemukan pada dua peristiwa bersejerah yang pertema adalah peringatan peristiwa sejarah yang setiap tahunnya selalu diperingati, yaitu Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan kedua adalah sejarah baru bagi bangsa Indonesia atas dilantiknya presiden ke 7 Jokowi widodo dan wakilnya Jusuf Kalla pada tanggal 20 Oktober kemarin dan hari minggu (Kemarin-red) susunan Kabinet yang bernamakan Kabinet Kerja sudah terbentuk dan diumumkan secara resmi kepada seluruh rakyat Indonesia.
 Menarik kemudian, jika dua peristiwa tersebut dapat dielaborasikan dan ditemukan relevansinya. Pertama Sumpah Pemuda merupakan sebuah peristiwa sejarah penting bagi bangsa Indonesia, peristiwa yang tak bisa kita lupakan begitu saja, pun dengan peristiwa itu kita jangan kemudian harus kembali pada masa lalu, akan tetapi sejarah itu kita jadikan refesensi untuk menatap masa depan dan memecahkan persoalan kekinian. Sejalan apa yang dikatakan oleh Michel Foucault, Sosiolog Perancis bahwa sejarah bukan melulu bicara masa lalu tapi sejarah adalah untuk masa kini. Lebih dari itu Fouaoult menggagas konsep tentang genealogi yang artinya sejarah ditulis untuk kepentingan masa kini yaitu hubungannya dengan komitmen terhadap masalah-masalah kontemporer. Maka pertanyaan yang mendasarnya adalah apakah sejarah sumpah pemuda dapat menjawab persoalan-persoalan bangsa Indonesia saat ini ?. Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu kiranya dijelaskan di sini peristiwa sejarah sumpah pemuda walaupun nanti dijelaskan dengan singkat.
Peristiwa sumpah pemuda bukanlah peristiwa terjadi begitu saja tanpa ada proses panjang sehingga terjadinya peristiwa tersebut. Sumpah pemuda merupakan bentuk otentik sejarah bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan hasil dari perjuangan keras rakyat yang selama ratusan tahun berada di bawah garis penjajahan atau tertindas di bawah kekuasaan kaum kolonialis, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong semangat para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. Hal itu tak lepas dari kemunculan organisasi yang notabene Pemuda pada saat itu baik yang sifar pergerakan nasional seperti Organisasi Boedi Oetomo dan organisasi-organisasi pemuda lainnya yang mengatasnamakan, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islamienten, Jong Bataks Bond, Jong Celebes serta Perhimpuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang memprakarsai terselenggaranya Kongres Pemuda.
Menelisik peristiswa tersebut penanda yang perlu disoroti pada peristiwa itu adalah Pemuda. Kata pemuda itu selalu menarik untuk diberbincangkan khususnya di negeri ini karena pada dasarnya bahwa setiap peristiswa sejarah di negeri ini adalah selalu dipelopori oleh pemuda, yang salah satunya bentuk otentiknya adalah sumpah pemuda sebagai petanda lahirnya bangsa indonesia. Maka agaknya tidak berlebih jika Bung Karno menekakan bahwa nasib bangsa indonesia ini berada di tangan pemuda. Bahkan sangking takjubnya kepada pemuda, Bung Karno kemudian berpesan “ berikan aku 1000 orang tua niscaya akan aku cabut semeru dari akarnya, tapi berikan aku 10 Pemuda niscaya akan aku guncangankan dunia”.
Selebihnya apa yang dikatakan oleh Bung Karno adalah sebuah pengharapan kepada pemuda. Maka kemudian bagaimana menjawab pertanyaan mendasar di atas tadi, Agar tidak terkesan bahwa perayaan Sumpah pemuda yang tiap tahunnya selalu diperingati ini tidak hanya Simbol peringatan belaka tanpa ada pemaknaan yang mendalam dan tidak dapat menjawab persoalan kekinian. Sedangkan kita selalu dipertontonkan oleh realitas pemuda hari ini yang cenderung berkonotasi “negatif”. Krikis karakter yang semakin merajalela, dimana tawuran antar pelajar sudah menjadi tradisi, pergaulan bebas di kalangan remaja semakin membara dimana-mana seperti, dan masih banyak lagi masalah kualitas pemuda yang ada di Indonesia  yang kian jauh dari cita-cita sumpah pemuda.
Oleh karenanya jawaban atas pertanyan di atas itu ialah dengan mengingat kembali spirit perjungan pemuda dulu atas bangsanya dan melakukan sebuah pemaknaan ulang (reinterpretasi) atas sejarah sumpah pemuda itu karena dengan pemuda dapat keluar dari permasalan yang ada, konteks dulu sangat berbeda jauh dengan konteks sekarang, bahkan pemuda sekarang bisa melampui semangat yang dimiliki oleh pemuda-pemuda dulu karena sejatinya kita adalah dilahirkan sebagai anak zaman yang membuat sejarah baru dizamannya sendiri. Maka hal yang mendesak perlu dilakukan oleh pemuda saat ini ialah, rajin-rajinlah belajar mencari ilmu pengetahuan, mencintai bangsa sendiri (rasa nasionlisme), bermental (karakter) kuat dan perlu kedisiplinan dengan demikian kita dapat memberikan sumbangsih pada bangsa kita sendiri, walau hanya sedikit.
Dan kedua ialah harapan besar yang perlu kita haturkan pada Pemerintah baru Presiden Joko Widodo. Kita tahu beliau dalam masa kampanye sering menyebut Revolusi Mental, barangkali itu dapat membantu bangsa Indonesia atas pemudanya keluar dari krisis mental menuju Revolusi Mental itu dengan melalui kebijakan dan program-program nyata, bukan lagi slogan-slogan. Karena sudah lama pemerintah kita ini mencanangkan program pendidikan berkarakter tapi pada kenyataannya belum nampak. 
Bukan kemudian kita selalu menyalahakan permerintah jika program yang dicangkan itu belum dirasakan hasilnya akan tetapi perlu juga kesadaran dari pemuda sendiri, pemuda yang punya tanggung jawab pada bangsa, pemuda sebagai harapan bangsa karena jika pemuda rusak rusaklah bangsa ini, sebaliknya jika pemuda hebat maka hebatlah bangsa ini.
Sebagai penulis yang tergolong masih muda, saya pun di sini perlu bersikap jujur bahwa saya belum bisa berbuat apa-apa terlebih memberikan sumbangsih yang berarti bagi  bangsa kita ini. tapi bukan berarti sebagai pemuda saya lantas bersikap pesimistis. Mari kita sebagai pemuda bersikap optismistik terhadap bangsa kita sendiri dan berusaha melahirkan sejarah baru sebagai petanda bahwa kita memang dilahirkan sebagai anak zaman. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Pemuda Indonesia Bersatulah..!!!

Blog ini saya buat sebagai wadah untuk tulisan-tulisan saya. baik tulisan yang isinya curahan hati maupun tulisan yang berupa pendapat terhadap realitas. dibuatnya blog ini dengan harapan untuk memotivasi saya untuk menulis. semoga dengan  adanya blog ini dapat memberikan pencerahan bagi siapa saja yang membaca tulisan di blog ini...