Bangsa yang
besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa akan jasa para pahlawannya.-Bung
Karno
Untuk
kesekian kalinya kita dipertemukan lagi dengan momentum peringatan Hari
Pahlawan, 10 November. Peristiwa yang terjadi 69 tahun silam itu mengingatkan
kita kembali semangat para pejuang-pejuang dahulu dalam mempertahankan
kemerdekaan bangsa kita dari bangsa kolonialis yang akan merenggut kemerderkaan
bangsa kita. Pikiran dan fisik mereka pertaruhkan bahkan nyawa sekalipun mereka
pertaruhkan hanya untuk kemenangan atau kemerdekaan.
Peringatan
hari pahlawan atau yang sering disebut sebagai Refleksi, bukan kemudian
dimaknai hanya sebagai peringatan atau refleksi belaka, yang hanya mengenang
jasa-jasa mereka, mengadakan upacara peringatan, yang dihadiri orang-orang
penting di negeri ini, menaikkan benderah tiang penuh, berpidato dan setelah
acara itu selesai tidak ada satu pun makna sebenarnya yang harus dipetik dari
peringatan itu, akhirnya kalau cara memperingatinya seperti itu dan diulangi setiap
tahunnya, maka hari pahlawan itu akan kehilangan esensinya dan seolah-olah
peristiwa 10 November dalam ruang hampa.
Sekali
lagi, ini bukan hanya sekedar refleksi belaka, barangkali pertemuan dengan hari
kepahlawanan kali ini mari kita maknai sebagai keterpanggilan. Sejatinya tanpa
harus saya katakan di sini sebagai keterpanggilan, apabila kita sadar akan keberadaan
kita sebagai anak bangsa, sehingga memaknai hari kepahlawanan ini merupakan
keterpanggilan kita untuk menyelesaikan akan keringnya makna peringatan
tersebut dan yang paling mendasar adalah ialah keterpanggilan kita untuk meneruskan
perjuangan pahlawan terdahulu yaitu memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Secara kekuasan
politik memang Indonesia telah merdeka, akan tetapi secara hakikatnya kita
belum sepenuhnya merdeka. Tapi sampai saat ini secara ekonomi bangsa Indonesia belumlah
merdeka. Senada dengan Tan Malaka bahwa merdeka
100 % itu ialah merdeka secara politik dan ekonomi. peristiwa 69 tahun
silam yang dilakukan oleh para pejuang di Surabaya itu merupakan bentuk dari perjuangan
politik untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan cara perang
melawan penjajah inggris, dan pada akhirnya kita tetaplah merdeka secara politik.
Maka hal yang memprihatingkan adalah bahwa bangsa kita ini sangat kaya, sumber
daya alam yang sangat melimpah tapi bangsa kita sendiri tidak pernah menikmati
kekayaan alam itu. Inilah dimaksud dengan ketidakmerdekaan dalam ekonomi.
Lihatlah keadaan
rakyat kita sekarang, rakyat kita terbelenggu dengan kemiskinan, orang tua yang
tidak sanggup menyekolahkan anak mereka karena mahalnya biaya pendidikan, pengangguran
semakin bertambah, biaya hidup makin hari makin mahal, gaji buruh yang rendah,
petani yang dirampas tanahnya, belum lagi virus korupsi yang telah menggurita
di negeri ini. Tan Malaka pernah membuat sebuat ilustrasi tentang keadaan rakyat
yang menyedihkan, Sebuah kenyataan puluhan tahun lamanya dan kenyataan itu
sampai hari ini kita alami : Beberapa
juta jiwa sekarang hidup dalam keadaan ‘pagi makan, petang tidak’. Mereka tidak
bertanah dan beralat lagi, tidak berpengharapan di belakang hari. Kekuasaan
atas tanah pabrik, alat-alat pengangkutan dan barang perdagangan, kini semuanya
dipusatkan dalam tangan beberapa sindikat...demikianlah rakyat Indonesia tambah
lama tambah miskin sebab gaji mereka tetap seperti biasa(malahan kerapkali
diturunkan), sementara barang-barang makanan semakin mahal.
Dalam kondisi
yang tergambar di atas adalah keterpanggilan untuk tidak lagi terjebak pada
para pahlawan dulu dalam menyelesaikan persoalan di atas, melainkan menjadi
pahlawan-pahlawan baru dalam menuntaskan permasalahan yang dialami oleh bangsa Indonesia.
Para Pahlawan 10 November sudah berlalu, mereka telah
melakukan apa yang seharusnya melakukan di zamannya. Kini saatnya muncul
pahlawan-pahlawan baru, membuat sejarah-sejarah baru. Dikatakan pahlawan bukan berarti
kita perang, akan tetapi pahlawan itu ialah orang yang memberikan perubahan dan
melahirkan sejarah baru sesuai dengan zamannya. Mulai dari Pemimpin Pemerintah
menjadi pahlawan bagi rakyatnya, atas kemiskinan, biaya pendidikan mahal,
pengangguran, petani, buruh dan menjadi pahlawan atas virus korupsi yang sudah
menggurita itu. Mahasiswa dan Pemuda menjadi pahlawan bagi bangsanya dan masih banyak
lagi yang bisa jadi pahlawan-pahlawan baru itu.
Kiranya itu yang kita harapkan bahwa menperingati hari pahlawan kita maknai
sebagai keterpanggilan untuk lahir sebagai pahlawan-pahlawan baru.