Jumat, 12 Desember 2014

Sebatas Catatan : Pemikiran untuk Koorkom UMSurabaya

Sabtu-Minggu ini, koorkom IMM UMsurabaya akan mengadakan Musyarawarah (Musykoorkom). Acara yang wajib dilakukan setiap tahunnya ini dalam rangka untuk memillih kepengurusan baru dengan melalui mekanisme pemiihan ketua umum dan formatur. Harapan yang tak pernah hilang,  kita selalu mengharapkan sebuah perubahan dalam setiap pergantian kepengurusan.
 Seberapa penting keberadaan koorkom di kampus? Pertanyaan selintingan  namun menusuk ini seringkali menjadi bahan  refleksi akan keberadaannya. Ada yang mengatakan bahwa koorkom adalah kepanjangan tangan cabang untuk mengkoordinir seluruh komisariat yang ada di kampus. Pun juga ada yang mengatakan bahwa korkom adalah sesuai kebutuhan komisariat, dengan kata lain kalau komisariat tidak butuh korkom maka kehadiran korkom di kampus tidak dibutuhkan. Setahu saya di surabaya kampus yang ada korkomnya ialah, Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), Universitas Islam Universitas (UIN) dan Universitas Negeri surabaya (UNESA) dan kampus yang terdapat IMM tapi tidak ada koorkomnya ialah, Universitas Airlangga Surabaya(UNAIR) dan Instiitut Sepuluh november Surabaya (ITS) dan Universitas adi buana Surabaya (UNIPA) karena alasan rasionalnya jumlah komisariat dari kedua kampus ini, tidak perlu menggunakan Koorkom. UNAIR dua Komisariat , ITS dan UNIPA satu Komisariat.
Kedua cara pandang di atas saya kira wajar, karena sampai hari ini keberadaan korkom di tiap-tiap kampus belum juga diatur secara baku di AD/ART IMM. Maka  untuk menjawab pertanyaan di atas, menurut pandangan saya keberadaan koorkom sangat diperlukan di kampus, dengan jumlah komisariat yang relatif banyak untuk mengkordinir seluruh komisariat. Sesuai dengan nama saja, maka koorkom adalah sebagai bagan yang bertugas mengkoordinir kepentingan masing-masing komisariat, lebih-lebih dapat mensinergikan antar komisariat dan  mampu menjadi jembatan komunikasi antara kepentingan cabang dengan komisariat maupun sebaliknya.
Menilisik koorkom di kampus UMSurabaya, yang  sebentar lagi mengadakan musyawarah ini, perlu kiranya mengetahui peran yang dilakukan sebagaimana eksistensinya sebagai koorkom selama ini. Sejauh apa yang saya ketahui selama menjabat sebagai pimpinan di komisariat dan posisi itu saya kira yang dapat mengetahui peran yang dilakukan oleh koorkom.
Bagi saya ada hal yang dilupakan barangkali oleh koorkom dan saya kira ini menjadi bahan koreksi supaya peristiwa itu tidak diulangi lagi, yaitu kurang maksimalnya ruang komunikasi delibaratif yang dilakukan oleh koorkom. Diperiode sebelum-sebelumnya, saya melihat di awal-awal periode ada upaya untuk mengarah ke sana dan itu dilakukan oleh masing-masing bidang. Dan dipertengahan dan diakhir periodenya seakan upaya itu hilang entah kemana. Saya kira komunikasi delibaritif ini sangat penting mengingat bahwa koorkom adalah wadah  yang mengkoordinir dan harus mengetahui keadaan di bawah (komisariat).
            Maka pola pendampingan yang continyu perlu digalakkan oleh Koorkom sebuah keharusan agar dirasa mampu untuk mengkoordinir seluruh komisariat di kampus UMSurabaya. Walapun itu terasa ideal dan kurang realistik, karena saya kira ada hambatan yang ini sudah menjadi rahasia di internal, yaitu terdapat komisariat yang sulitnya untuk dikoordinir. Saya sebut saja di sini, komisariat FAI. Berbagai cara untuk membujuk komisariat satu ini, akan tetapi sejauh dari pengamatan saya komisariat FAI masih susah untuk dikoordinir terlepas karena ada luka sejarah atau tendensi komisariat hal itu masih menjadi tanda tanya. Ditambah lagi,menurut pembacaan saya pribadi dan teman-teman komisariat ekonomi sudah berjalan sendiri, sudah sulit untuk dikoordinir dan berjalan bareng.
            Saya kira pembacaan yang sederhana di atas itu menjadi tugas untuk koorkom ke depan. Memang terasa berat ketika membayangkan tugas untuk menyelesaikan persoalan di atas, akan tetapi ketika kita sadar akan eksistensi koorkom maka orang yang nantinya akan menduduki pimpinan baru di koorkom harus menyelesaikan persoalan itu.
            Langkah yang saya sebutkan diatas, komunikasi deliberatif itu perlu dilakukan secara continyu, katakan sebulan sekali, terutama komisariat yang sekiranya sulit dirangkul, tentu dengan cara ini tidak akan ada khasiatnya jikalau masih ada egoisme dari komisariat sendiri karena komunikasi deliberatif ini akan ada khasiat ketika dalam berkomunikasi mampu cair dan egaliter. Setelah itu pendampingan yang intens atas seluruh komisariat harus dilakukan oleh koorkom ke depan dan terakhir menghidupkan kembai sekret sebagai basis kegiatan koorkom dengan seluruh komisariat, karena aktifitas di sekret saya kira dapat membangun emosional antar kader, komisariat dengan koorkom.

                   Hanya sebatas catatan dan pemikiran sederhana ini yang bisa haturkan untuk koorkom ke depan, kalau boleh jujur secara pribadi terjadi pergolatan dalam diriku, jika hanya dapat menulisakan sebuah cacatan ini, tanpa harus terlibat langsung untuk memperbaiki IMM di kampus UMSurabaya. 
Semoga dapat koorkom kedepan ini mampu memberikan perubahan, baik di koorkom sendiri dan seluruh komisariat. Apalagi koorkom ke depan mempunyai tambahan tugas untuk mendampingi dan membimbing komisariat yang saja dilahirkan, yaitu IMM komisariat Psikologi. Saya ucapkan selamat untuk Nurrima Dini Elysa yang telah diamanahi sebagai Ketua Umum IMM komisariat Psikologi.

0 komentar:

Posting Komentar