Sabtu-Minggu
ini, koorkom IMM UMsurabaya akan mengadakan Musyarawarah (Musykoorkom). Acara
yang wajib dilakukan setiap tahunnya ini dalam rangka untuk memillih
kepengurusan baru dengan melalui mekanisme pemiihan ketua umum dan formatur.
Harapan yang tak pernah hilang, kita
selalu mengharapkan sebuah perubahan dalam setiap pergantian kepengurusan.
Seberapa penting keberadaan koorkom di kampus?
Pertanyaan selintingan namun menusuk ini
seringkali menjadi bahan refleksi akan
keberadaannya. Ada yang mengatakan bahwa koorkom adalah kepanjangan tangan
cabang untuk mengkoordinir seluruh komisariat yang ada di kampus. Pun juga ada
yang mengatakan bahwa korkom adalah sesuai kebutuhan komisariat, dengan kata
lain kalau komisariat tidak butuh korkom maka kehadiran korkom di kampus tidak
dibutuhkan. Setahu saya di surabaya kampus yang ada korkomnya ialah,
Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), Universitas Islam Universitas (UIN)
dan Universitas Negeri surabaya (UNESA) dan kampus yang terdapat IMM tapi tidak
ada koorkomnya ialah, Universitas Airlangga Surabaya(UNAIR) dan Instiitut
Sepuluh november Surabaya (ITS) dan Universitas adi buana Surabaya (UNIPA) karena
alasan rasionalnya jumlah komisariat dari kedua kampus ini, tidak perlu
menggunakan Koorkom. UNAIR dua Komisariat , ITS dan UNIPA satu Komisariat.
Kedua
cara pandang di atas saya kira wajar, karena sampai hari ini keberadaan korkom
di tiap-tiap kampus belum juga diatur secara baku di AD/ART IMM. Maka untuk menjawab pertanyaan di atas, menurut
pandangan saya keberadaan koorkom sangat diperlukan di kampus, dengan jumlah
komisariat yang relatif banyak untuk mengkordinir seluruh komisariat. Sesuai
dengan nama saja, maka koorkom adalah sebagai bagan yang bertugas mengkoordinir
kepentingan masing-masing komisariat, lebih-lebih dapat mensinergikan antar
komisariat dan mampu menjadi jembatan
komunikasi antara kepentingan cabang dengan komisariat maupun sebaliknya.
Menilisik
koorkom di kampus UMSurabaya, yang
sebentar lagi mengadakan musyawarah ini, perlu kiranya mengetahui peran
yang dilakukan sebagaimana eksistensinya sebagai koorkom selama ini. Sejauh apa
yang saya ketahui selama menjabat sebagai pimpinan di komisariat dan posisi itu
saya kira yang dapat mengetahui peran yang dilakukan oleh koorkom.
Bagi
saya ada hal yang dilupakan barangkali oleh koorkom dan saya kira ini menjadi
bahan koreksi supaya peristiwa itu tidak diulangi lagi, yaitu kurang maksimalnya ruang komunikasi
delibaratif yang dilakukan oleh koorkom. Diperiode sebelum-sebelumnya, saya
melihat di awal-awal periode ada upaya untuk mengarah ke sana dan itu dilakukan
oleh masing-masing bidang. Dan dipertengahan dan diakhir periodenya seakan
upaya itu hilang entah kemana. Saya kira komunikasi delibaritif ini sangat
penting mengingat bahwa koorkom adalah wadah
yang mengkoordinir dan harus mengetahui keadaan di bawah (komisariat).
Maka pola pendampingan yang continyu
perlu digalakkan oleh Koorkom sebuah keharusan agar dirasa mampu untuk
mengkoordinir seluruh komisariat di kampus UMSurabaya. Walapun itu terasa ideal
dan kurang realistik, karena saya kira ada hambatan yang ini sudah menjadi
rahasia di internal, yaitu terdapat komisariat yang sulitnya untuk dikoordinir.
Saya sebut saja di sini, komisariat FAI. Berbagai cara untuk membujuk
komisariat satu ini, akan tetapi sejauh dari pengamatan saya komisariat FAI
masih susah untuk dikoordinir terlepas karena ada luka sejarah atau tendensi
komisariat hal itu masih menjadi tanda tanya. Ditambah lagi,menurut
pembacaan saya pribadi dan teman-teman komisariat ekonomi sudah berjalan
sendiri, sudah sulit untuk dikoordinir dan berjalan bareng.
Saya kira pembacaan yang sederhana
di atas itu menjadi tugas untuk koorkom ke depan. Memang terasa berat ketika
membayangkan tugas untuk menyelesaikan persoalan di atas, akan tetapi ketika
kita sadar akan eksistensi koorkom maka orang yang nantinya akan menduduki
pimpinan baru di koorkom harus menyelesaikan persoalan itu.
Langkah yang saya sebutkan diatas,
komunikasi deliberatif itu perlu dilakukan secara continyu, katakan sebulan
sekali, terutama komisariat yang sekiranya sulit dirangkul, tentu dengan cara
ini tidak akan ada khasiatnya jikalau masih ada egoisme dari komisariat sendiri
karena komunikasi deliberatif ini akan ada khasiat ketika dalam berkomunikasi
mampu cair dan egaliter. Setelah itu pendampingan yang intens atas seluruh
komisariat harus dilakukan oleh koorkom ke depan dan terakhir menghidupkan
kembai sekret sebagai basis kegiatan koorkom dengan seluruh komisariat, karena
aktifitas di sekret saya kira dapat membangun emosional antar kader, komisariat
dengan koorkom.
Hanya sebatas catatan dan pemikiran sederhana ini yang bisa haturkan untuk koorkom ke depan, kalau boleh jujur secara pribadi terjadi pergolatan dalam diriku, jika hanya dapat menulisakan sebuah cacatan ini, tanpa harus terlibat langsung untuk memperbaiki IMM di kampus UMSurabaya.
Semoga dapat koorkom kedepan ini mampu memberikan perubahan, baik di koorkom sendiri dan seluruh komisariat. Apalagi koorkom ke depan mempunyai tambahan tugas untuk mendampingi dan membimbing komisariat yang saja dilahirkan, yaitu IMM komisariat Psikologi. Saya ucapkan selamat untuk Nurrima Dini Elysa yang telah diamanahi sebagai Ketua Umum IMM komisariat Psikologi.
Hanya sebatas catatan dan pemikiran sederhana ini yang bisa haturkan untuk koorkom ke depan, kalau boleh jujur secara pribadi terjadi pergolatan dalam diriku, jika hanya dapat menulisakan sebuah cacatan ini, tanpa harus terlibat langsung untuk memperbaiki IMM di kampus UMSurabaya.
Semoga dapat koorkom kedepan ini mampu memberikan perubahan, baik di koorkom sendiri dan seluruh komisariat. Apalagi koorkom ke depan mempunyai tambahan tugas untuk mendampingi dan membimbing komisariat yang saja dilahirkan, yaitu IMM komisariat Psikologi. Saya ucapkan selamat untuk Nurrima Dini Elysa yang telah diamanahi sebagai Ketua Umum IMM komisariat Psikologi.
0 komentar:
Posting Komentar