‘Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan,
memperkukuh kemauan serta memperluas perasaan’.-Tan Malaka
Orientasi
dinamika kampus atau yang dikenal dengan singkatan ORDIKbarangkali tidak begitu
asing di telinga Mahasiswa baru (Maba). Mungkin Maba pernah mendengar
sebelumnya atau Maba yang punya kenalan mahasiswa sehingga bisa tanya sekilas
tentang Ordik.ORDIK merupakan serangkain kegiatan tahunan yang diadakan oleh
kampus untuk menyambut Mahasiswa baru (Maba) dan Tujuan dilaksanakan kegiatan
ini adalah untuk memperkenalkan terkait akademik, pelayanan dan fasilitas kampus
yang akan didapatkan Maba selama kuliah.
Berbicara
ordik, Seringkali ada yang berpikir bahwa kegiatan ini identik dengan hal-hal
yang berbau negatif, tindakan-tindakan kekerasan atau penindasan yang dilakukan
oleh seniornya (panitia ordik). Memberikan tugas yang sangat melelahkan dan
disuru membawa sesuatu yang telah ditentukan panitia jika tidak mengerjakan
tugas dan tidak membawa yang disuruh panitia maka akan diberikan hukuman.Lagi-lagi
ketakutan yang akan dialami Maba kalau berbicara hukuman. Tindakan itu saya
kira terlalu berlebihan dan tidak begitu mendidik ketika diperlakukan pada
mahasiswa baru. Maksud berlebihan dan tidak mendidik di sini ketika mahasiswa
baru tidak lagi dipahamkan pada jadi dirinya sebagai mahasiswa.
Mengorientasikan
mahasiswa baru melalui ordik jangan terus diorientasi dengan hal-hal yang
berupa fisik saja dan memberikan cara pandang bagaimama menjalani kehidupan di
kampus dengan benar dan tepat. Lebih dari itu, yang perlu ditanamkan sejak awal
kepada mahasiswa baru adalah mengubah cara berpikir (paradigma) mereka yang
dulu siswa sekarang menjadi mahasiswa dan setelah itu membangun kesadaran
kritis mereka akan realita kehidupan di kampus. Dua hal yang saya sebutkan itu,
mengubah cara berpikir dan membangun kesadaran kritis adalah modal dasar dalam
menjalani kehidupan di kampus.
Masalahnya
kemudian, mahasiswa senior (panitia) dalam mendampingin adek-adeknya lupa
dengan bentuk penyadaran-penyadaran seperti itu, entah karena seniornya hanya
butuh eksistensi saja, kenal dengan adek-adek sudah cukup atau karena faktor
masa lalu, mereka dulu dipermalukan semena-semena oleh seniornya dan sekarang
dijadikan kesempatan sebagai ajang pembalasan. Saya kira adik-adik mahasiswa
baru jangan dijadikan korban baru, senada dengan yang pernah disampaikan oleh
Alm. Soe Hok gie, “ Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa, merintih
kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas,
teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah
menengah, mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh
mahasiswa semacam tadi”, maka yang perlu ditekankan di sini adalah mahasiswa
senior (panitia) sebagai fasilitator untuk mengantarkan mereka dalam kehidupan
kampus. Kalau dari awal saja mahasiswa baru sudah dikondisikan pada
ketidakberdayaan, hal itu akan berimbas ketika mereka sudah hidup di fakultas mereka masing-masing. Diakui
atau tidak bahwa di setiap fakultas masih ada dosen yang berwatak “sok kuasa”, anti kritik dan
mau nya sendiri. Akhirnya mahasiwa baru tadi tidak akan berdaya menghadapi dosen
yang punya watak seperti tadi.
Untuk
itu, berhasil atau tidak nya kegiatan ini saya menilai bukan dari keberhasilan
acaranya, akan tetapi melalui kegiatan ini mahasiswa baru sudah mendapatkan
pencerahan sesuai dengan status sosial baru mereka sebagai mahasiswa bukan
sebaliknya, mereka mendapatkan pembodohan melalui kegiatan ini.
sakno gak ono seng komen
BalasHapus