Minggu, 02 November 2014

ORDIK : Pencerahan Atau Pembodohan


‘Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperluas perasaan’.-Tan Malaka

Orientasi dinamika kampus atau yang dikenal dengan singkatan ORDIKbarangkali tidak begitu asing di telinga Mahasiswa baru (Maba). Mungkin Maba pernah mendengar sebelumnya atau Maba yang punya kenalan mahasiswa sehingga bisa tanya sekilas tentang Ordik.ORDIK merupakan serangkain kegiatan tahunan yang diadakan oleh kampus untuk menyambut Mahasiswa baru (Maba) dan Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan terkait akademik, pelayanan dan fasilitas kampus yang akan didapatkan Maba selama kuliah.
Berbicara ordik, Seringkali ada yang berpikir bahwa kegiatan ini identik dengan hal-hal yang berbau negatif, tindakan-tindakan kekerasan atau penindasan yang dilakukan oleh seniornya (panitia ordik). Memberikan tugas yang sangat melelahkan dan disuru membawa sesuatu yang telah ditentukan panitia jika tidak mengerjakan tugas dan tidak membawa yang disuruh panitia maka akan diberikan hukuman.Lagi-lagi ketakutan yang akan dialami Maba kalau berbicara hukuman. Tindakan itu saya kira terlalu berlebihan dan tidak begitu mendidik ketika diperlakukan pada mahasiswa baru. Maksud berlebihan dan tidak mendidik di sini ketika mahasiswa baru tidak lagi dipahamkan pada jadi dirinya sebagai mahasiswa.
Mengorientasikan mahasiswa baru melalui ordik jangan terus diorientasi dengan hal-hal yang berupa fisik saja dan memberikan cara pandang bagaimama menjalani kehidupan di kampus dengan benar dan tepat. Lebih dari itu, yang perlu ditanamkan sejak awal kepada mahasiswa baru adalah mengubah cara berpikir (paradigma) mereka yang dulu siswa sekarang menjadi mahasiswa dan setelah itu membangun kesadaran kritis mereka akan realita kehidupan di kampus. Dua hal yang saya sebutkan itu, mengubah cara berpikir dan membangun kesadaran kritis adalah modal dasar dalam menjalani kehidupan di kampus.
Masalahnya kemudian, mahasiswa senior (panitia) dalam mendampingin adek-adeknya lupa dengan bentuk penyadaran-penyadaran seperti itu, entah karena seniornya hanya butuh eksistensi saja, kenal dengan adek-adek sudah cukup atau karena faktor masa lalu, mereka dulu dipermalukan semena-semena oleh seniornya dan sekarang dijadikan kesempatan sebagai ajang pembalasan. Saya kira adik-adik mahasiswa baru jangan dijadikan korban baru, senada dengan yang pernah disampaikan oleh Alm. Soe Hok gie, “ Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa, merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah, mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”, maka yang perlu ditekankan di sini adalah mahasiswa senior (panitia) sebagai fasilitator untuk mengantarkan mereka dalam kehidupan kampus. Kalau dari awal saja mahasiswa baru sudah dikondisikan pada ketidakberdayaan, hal itu akan berimbas ketika mereka sudah  hidup di fakultas mereka masing-masing. Diakui atau tidak bahwa di setiap fakultas masih ada dosen  yang berwatak “sok kuasa”, anti kritik dan mau nya sendiri. Akhirnya mahasiwa baru tadi tidak akan berdaya menghadapi dosen yang punya watak seperti tadi.

Untuk itu, berhasil atau tidak nya kegiatan ini saya menilai bukan dari keberhasilan acaranya, akan tetapi melalui kegiatan ini mahasiswa baru sudah mendapatkan pencerahan sesuai dengan status sosial baru mereka sebagai mahasiswa bukan sebaliknya, mereka mendapatkan pembodohan melalui kegiatan ini.

1 komentar: